Jumat, 31 Maret 2023

Kehormatan Siapa yang Kita Cari

 SAAT TEDUH 

31 MARET 2023

Bacaan Yohanes 12:37-43


*KEHORMATAN SIAPA YANG KITA CARI?*

_"Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah"_

(Yohanes 12:43 ) 


Sekalipun ada beberapa pemimpin Yahudi yang percaya kepada Tuhan Yesus, namun mereka takut untuk bersaksi. Sikap tersebut menunjukkan bahwa sebagai pemimpin ternyata tidak bisa menjadi teladan bagi orang yang dipimpinnya karena sikap tersebut menunjukkan bahwa mereka lebih suka mencari kehormatan manusia dibanding kehormatan dari Tuhan. Bahkan di kisah sebelumnya ketika Yesus berbicara di rumah ibadah di Kapernaum, apa yang Yesus katakan kepada orang-orang Yahudi juga kepada para murid-Nya dianggap sebagai ucapan yang keras sehingga sebagian murid-Nya memilih untuk mundur: 

_Mulai dari waktu itu *banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri* dan tidak lagi mengikut Dia_ (Yohanes 6:66). Mereka mengurungkan niatnya untuk mengikut Yesus karena takut kehilangan hormat dari manusia. Tak seorang pun ingin dimusuhi, tiap orang ingin dihargai dan dihormati. Itulah sebabnya kita sering kali rela membayar dengan harga mahal demi mencari kehormatan manusia. Kita lebih memilih menyenangkan hati manusia dibanding menyenangkan hati Tuhan. 


Saudaraku terkasih, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, mari kita belajar dari kehidupan pelayanan Tuhan Yesus. Kurang baik apa Yesus dalam pelayanan: Ia menolong banyak orang yang memiliki pergumulan, baik menyembuhkan orang sakit, menguatkan mereka yang tidak berdaya, mengenyangkan mereka yang lapar, membangkitkan orang mati, menghibur yang sedih dll. Apakah dengan demikian Yesus disanjung dan dipuji banyak orang? Realitanya Ia tetap dibenci dan dimusuhi. Namun apakah hal itu membuat Ia berhenti untuk menyampaikan kebenaran? Tidak! Sekalipun penderitaan dan kematian di atas kayu salib ada di depan mata, Yesus lebih memilih taat kepada Bapa dibanding mencari kehormatan manusia (Filipi 2:5-11). 

Sadarilah bahwa ketika kita memusatkan keinginan hanya untuk diri sendiri dan mencari kehormatan manusia maka hal itu akan sulit terpenuhi. Sebaik apapun kita berbuat, pasti ada yang tidak suka. Jika kita ingin mendapat penghormatan Tuhan, mentaati kehendak-Nya adalah hal yang utama. Jika ingin sikap orang lain berubah, maka kita perlu mengubah terlebih dahulu diri kita. Jadilah pemimpin atau pribadi yang bisa diteladani. Jangan takut ketika kita tidak mendapat kehormatan manusia karena kehormatan manusia sering tidak mengubah pribadi kita menjadi baik justru menjadikan kita semakin tinggi hati. Carilah kehormatan Tuhan, maka kita akan diubahkan menjadi pribadi yang rendah hati, setia, taat, diberkati dan mampu menjadi berkat bagi banyak orang. 

Amin. Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Selasa, 28 Maret 2023

Tidak Seperti yang Kita Pikirkan

 SAAT TEDUH 

29 MARET 2023

Bacaan Yohanes 11:1-44


*TIDAK SEPERTI YANG KITA PIKIRKAN*

Maka kata Marta kepada Yesus: _"Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati"_

(Yohanes 11:21)  


Kita sebagai orang percaya sering memiliki pikiran yang sama dengan Marta dan Maria. Marta dan Maria menganggap kedatangan Yesus ke rumah mereka sudah terlambat (ayat 11, 32) dan tak ada gunanya lagi karena Lazarus sudah mati dan telah dikuburkan selama 4 hari. Anggapan Marta dan Maria sering mewakili anggapan kita juga. Kita memang percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup menolong pergumulan kita, namun pergumulan yang tidak berat. Tetapi sering ragu bahkan tidak percaya bahwa Yesus sanggup menolong melepaskan kita dari pergumulan yang sangat berat. Itu sama dengan Marta, ia percaya Yesus sanggup menyembuhkan Lazarus, tetapi tidak percaya bahwa Yesus sanggup membangkitkan Lazarus dari kematian. Marta percaya kebangkitan itu akan terjadi bukan saat itu tetapi menunggu akhir zaman (ayat 24). Saat ini pun jika jemaat ditanya apakah mereka percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup melakukan segala perkara bahkan yang tampaknya mustahil bagi manusia? Pasti mereka akan menjawab "Percaya!". Mulut kita mungkin bisa berkata demikian, namun hati kita belum tentu. Untuk bisa benar-benar yakin dan percaya baik di mulut maupun di hati butuh waktu yang panjang bahkan sepanjang umur kita. 


Saudaraku terkasih, terkadang rencana Tuhan jauh berbeda dengan apa yang kita harapkan dan pikirkan. Bagi kita yang saat ini mengalami begitu banyak beban pergumulan bahkan beban itu terasa sangat berat, maunya Tuhan segera bertindak menolong kita secepatnya. Namun apa yang kita pikirkan dan harapkan tidak terjadi bahkan seolah Tuhan membiarkan kita mengalami hal-hal yang begitu menyakitkan karena harus mengalami kegagalan, kehilangan, kekalahan, kebangkrutan, keterpurukan dan berbagai penderitaan. Hati dan pikiran kita seolah dibuatnya menjadi ragu dan bimbang. Namun benarkah demikian? Mari perhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan kepada para murid di ayat 15 _"tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, *supaya kamu dapat belajar percaya.* Marilah kita pergi sekarang kepadanya."_ 

Itu artinya bahwa dalam hikmat Tuhan, bisa saja pergumulan itu Tuhan ijinkan terus menimpa kita bahkan seolah Ia sengaja melakukan agar kita mau *belajar untuk percaya* kepada-Nya bahwa apa yang Tuhan pikirkan tidak sama dengan yang kita pikirkan. Namun satu hal yang harus kita percaya bahwa *Tuhan akan memberikan yang terbaik tepat pada waktunya!* Mari belajar dan terus belajar menyelami akan cinta kasih Tuhan, sehingga pikiran kita bisa menyelaraskan dengan pikiran dan rencana Tuhan. Memang tidak mudah. Namun ketika kita sungguh-sungguh percaya, mujizat Tuhan akan menjadi nyata!

Amin. Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Senin, 27 Maret 2023

Kuasa Firman-nya

 SAAT TEDUH 

28 MARET 2023

Bacaan Yohanes 11:1-44


*KUASA FIRMANNYA*

Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: _"Lazarus, marilah ke luar!"_

(Yohanes 11:43)  


Firman Tuhan merupakan Tuhan sendiri. Karena antara Tuhan dan firman-Nya tidak dapat dipisahkan. Tuhan menciptakan dunia ini dengan segala isinya melalui firman-Nya. Dalam kitab kejadian ketika Tuhan menciptakan terang, Ia hanya berfirman:  "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi (Kejadian 1:3). Begitu pula ketika Tuhan menciptakan cakrawala, tumbuhan, binatang dll. Dengan firman atau ucapan yang Tuhan keluarkan, maka hal itu akan terjadi. Demikian pula pada peristiwa kematian Lazarus yang sudah dikubur selama 4 hari, Yesus membangkitkan Lazarus hanya dengan satu kalimat yang Ia ucapan : "Lazarus, marilah keluar!" (ayat 43), maka keluarlah Lazarus dari kubur dan ia hidup kembali. Perkataan Yesus membuktikan dua hal :

1. Yesus adalah Tuhan yang menjadi manusia, seperti yang tertulis dalam Yohanes 1:14 _*"Firman itu telah menjadi manusia,* dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran"_

Itulah sebabnya apa yang Yesus katakan pasti terjadi. 

2. Sebagai perwujudan otoritas Tuhan. Perkataan yang Yesus ucapkan sama seperti Firman yang Tuhan ucapkan ketika menciptakan segala sesuatu. Itulah otoritas Tuhan yang ditunjukkan melalui firman yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Yesus berkuasa atas kehidupan manusia,  sehingga sekalipun Lazarus sudah mati, Ia sanggup membangkitkan dan menghidupkan kembali. 


Saudaraku terkasih, sampai saat ini masih banyak orang yang tidak percaya akan hal tersebut. Yesus hanya dianggap manusia biasa yang diutus Tuhan. Itu sama seperti orang-orang Yahudi, orang-orang Farisi, para imam dan ahli-ahli Taurat, meskipun sudah melihat dengan mata kepala sendiri berbagai mujizat yang Yesus lakukan bahkan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan siapapun yaitu membangkitkan orang mati, tetap saja mereka tidak percaya. Oleh sebab itu berbahagialah kita yang percaya kepada Yesus karena kita akan diberi kuasa menjadi anak-anak-Nya, sebagaimana yang tertulis dalam Yohanes 1:12 _"Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya"_

Amin. Teruslah percaya bahwa kuasa dan mujizat-Nya tetap sama dari dulu, sekarang sampai selama-lamanya. 

Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Mengubah Keraguan dengan Iman

 SAAT TEDUH

27 MARET 2023

Bacaan Yohanes 11:1-44


*MERUBAH  KERAGUAN DENGAN IMAN*

Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: _"Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?"_

(Yohanes 11:37)  


Kehadiran Yesus di tengah-tengah kedukaan yang dirasakan oleh Maria dan Marta karena kematian Lazarus membuat banyak orang di satu sisi merasa kagum akan begitu besar rasa kasih Yesus kepada Lazarus, namun di sisi lain ada yang mencibir dan meragukan kasih-Nya tersebut. Sehingga beberapa orang Yahudi yang hadir saling berbisik dan berkata: _"Ia yang memelekkan mata orang buta, *tidak sanggupkah* Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?"_ (ayat 37). 

Mereka yang telah menyaksikan berbagai mujizat Tuhan Yesus di berbagai tempat baik saat mengubah air menjadi anggur di Kana, menyembuhkan anak pegawai istana, menyembuhkan orang yang lumpuh 38 tahun di kolam Betesda, memberi makan 5000 orang lebih, Yesus berjalan di atas air, menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dll, mengapa tidak sanggup menolong menyembuhkan Lazarus orang yang sangat dikasihi-Nya? Namun keraguan mereka segera terjawab setelah Yesus membangkitkan dan menghidupkan kembali Lazarus dari kematian yang telah dialami selama 4 hari. Sehingga baik Marta, Maria maupun banyak orang yang menyaksikan peristiwa tersebut menjadi percaya kepada-Nya, seperti apa yang tertulis di ayat 45: _Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya_


Saudaraku terkasih, bukankah ketika kita sedang mengalami berbagai kesulitan, pergumulan dan penderitaan juga sering meragukan akan kasih dan kuasa Tuhan Yesus? Sehingga kitapun bertanya, benarkah Tuhan Yesus mengasihi saya? Kalau benar mengasihi mengapa Ia tidak segera menolong kesulitan, pergumulan dan penderitaan yang saya alami? Saudaraku, Yesus mau menolong pergumulan keluarga Marta dan Maria *bukan berdasarkan keraguan* mereka dan banyak orang, *melainkan karena Marta percaya akan kuasa-Nya* seperti yang telah diungkapkan di hadapan Tuhan Yesus:  _"Ya, Tuhan, *aku percaya*, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."_ (ayat 27). Itulah rahasia dan kunci pertolongan Tuhan atas semua pergumulan Marta: *PERCAYA KEPADA-NYA!*

Maka jika kita ingin Yesus menolong dan memberkati hidup kita maka kita *harus mengubah keraguan menjadi iman dan percaya kepada-Nya*.  Firman Tuhan menegaskan _*"Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan"*_  (Roma 10:10,13). 

Masihkah kita meragukan kuasa dan mujizat-Nya? Mari belajar untuk berproses menjadi percaya kepada-Nya, maka lihatlah hidup kita akan dipenuhi berkat dan mujizat. 

Amin. Selamat mengawali minggu ini dengan penuh percaya akan kasih dan kuasa-Nya.

Tuhan Yesus memberkati kita semuaπŸ™

Sabtu, 25 Maret 2023

Pengharapan di tengah Penderitaan

 RENUNGAN MINGGU PRA PASKA-5

26 MARET 2023

Bacaan Yohanes 11:1-44


*PENGHARAPAN DI TENGAH PENDERITAAN*

Jawab Marta: _"Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."_

(Yohanes 11 :27)


Kehidupan ini memang penuh misteri. Tidak ada seorangpun yang akan tahu kapan kehidupannya akan berakhir.  Apapun penyebabnya, yang jelas kematian membuat hati kita menjadi sangat berduka dan menderita. 

Begitu pun kematian Lazarus membuat hati Marta dan Maria sangat sedih. Lazarus adalah sahabat Yesus yang sangat dikasihi-Nya (ayat 3). Namun ketika mendengar kabar dari Marta dan Maria akan kematian Lazarus, Yesus tidak langsung ke rumah Lazarus tetapi justru sengaja tinggal 2 hari di seberang sungai Yordan (ayat 40). Padahal Marta dan Maria sangat berharap Yesus mau datang, berbelarasa atau melakukan tindakan untuk menolong Lazarus. Maka ketika Yesus datang, baik Marta maupun Maria mengatakan : _“Tuhan sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”_ (ayat 21, 32). Pernyataan Maria dan Marta tersebut seolah menyalahkan Yesus karena tidak peduli akan pergumulan keluarganya terlebih penderitaan Lazarus sahabat yang Ia kasihi. Maria dan Marta sangat berharap Yesus segera dan secepat mungkin menolong penderitaan mereka bertiga. Namun hingga 2 hari Yesus tidak datang dan Lazarus pun akhirnya dikuburkan. Tentu ada rasa kecewa, marah dan sedih yang dirasakan oleh Marta dan Maria. Bagi Maria dan Marta, Lazarus merupakan tumpuan harapan dalam keluarga mereka. Karena di Israel seorang laki-laki merupakan tulang punggung keluarga. Kematian Lazarus seakan menjadikan Maria dan Marta kehilangan pengharapan. 


Saudaraku terkasih,  tampaknya apa yang dialami dan dirasakan Maria dan Marta saat ini juga banyak dirasakan oleh banyak orang. Pengalaman Marta dan Maria bisa saja terjadi dalam kehidupan kita saat ini. Ketika ada orang yang kita kasihi sakit atau menderita, maka kita maunya Tuhan segera bertindak sekarang juga untuk menolongnya. Begitu pula saat kita kehilangan orang yang kita kasihi, kehilangan pekerjaan, dan kehilangan kesehatan dan kekuatan kita, seolah harapan kita sirna. Kita tidak mau penderitaan semakin berkepanjangan. Pokoknya kalau bisa sesegera mungkin Tuhan harus menolong! Itulah yang ada di benak kita. 


Saudaraku terkasih, benarkah Yesus saat itu acuh dan cuek tidak peduli dengan penderitaan Lazarus maupun kesedihan Marta dan Maria? Ternyata tidak. Jika Ia menunda tidak segera datang ke rumah Lazarus, karena Yesus punya tujuan, yaitu supaya para murid *belajar untuk percaya akan kuasaNya* (Yoh.11:15). Sekalipun sudah 4 hari Lazarus dikuburkan, Yesus sanggup membangkitkan dan menghidupkannya kembali. Untuk itu Ia menegaskan kepada Marta, Maria dan para murid-Nya: *“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya”* (Yoh.11:25-26). 

Saudara terkasih, dalam situasi seperti sekarang ini, yang Tuhan Yesus mau adalah *percaya penuh akan kuasa-Nya.* Jika Ia sanggup membangkitkan orang mati, maka *Yesus juga sanggup membangkitkan dan menghidupkan pengharapan kita!* Ia peduli dan berkuasa atas hidup kita. Tak ada sakit penyakit yang tak bisa Ia sembuhkan. Tak ada penderitaan dan pergumulan yang tak sanggup Ia lepaskan. Tuhan Yesus menantang para murid dan kita semua dengan pertanyaan : *_“PERCAYAKAH ENGKAU AKAN HAL INI?”_* (Yoh.11:26). 

Bagaimana respon kita terhadap pertanyaan Tuhan Yesus tersebut? Tidak percaya, ragu-ragu atau yakin dan percaya seperti Marta:  _"Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."_ (ayat 27).

Oleh karena itu yakin dan  percayalah kepada Tuhan Yesus, maka mujizat-Nya akan terjadi atas hidup kita. Amin

Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Jangan Jadi Batu Sandungan

 SAAT TEDUH 

26 APRIL 2023

Bacaan 1 Korintus 10:23-33


*JANGAN JADI BATU SANDUNGAN*

_"Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberatan hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu. Mungkin ada orang yang berkata: "Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain?"_

(1 Korintus 10:29)


Setiap pelayan Tuhan, baik pendeta, penginjil, guru agama, anggota majelis, atau apapun sebutannya pasti hidupnya menjadi sorotan orang lain. Baik pikiran, ucapan maupun perilakunya akan dijadikan pedoman atau tolok ukur bagi jemaat dan orang lain. Jika apa yang dipikir, diucapkan dan dilakukan salah maka sangat berbahaya jika ditiru oleh mereka yang belum dewasa rohani. Mereka menganggap kalau yang mereka lakukan benar karena hal tersebut juga dilakukan oleh seorang hamba atau pelayanan Tuhan. 

Pertanyaannya adalah: Apakah dengan demikian sebagai pelayan atau hamba Tuhan tidak boleh berbuat ini dan itu? Tentu boleh selama hal itu tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Apakah seorang pelayan Tuhan tidak boleh kaya? Tentu boleh selama hasil kekayaannya diperoleh dengan cara yang benar dan tidak dipamerkan di media sosial. Apakah ada larangan tertentu untuk makan dan minum bagi pelayan Tuhan? Tentu tidak selama makanan dan minuman tersebut tidak menjadi batu sandungan. Dengan tegas rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat di Korintus tentang hal tersebut: 

_"Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah"_

(1 Korintus 10:31-32) 


Saudaraku terkasih, mungkin ada yang berpendapat bahwa kita punya kebebasan untuk melakukan apapun selama itu tidak merugikan orang lain, toh pakai uang sendiri, biaya sendiri, ngapain ngurusi pendapat orang lain? Mungkin kalau hidup kita tidak menjadi sorotan dan dipakai sebagai tolok ukur dalam beretika tidak begitu berpengaruh bagi orang lain. Namun jabatan sebagai pelayan atau hamba Tuhan bisa dipastikan akan menjadi sorotan. Kita tidak bisa terlepas dari hal tersebut. Sebagai contoh sederhana, bagaimana jika ada pendeta atau hamba Tuhan yang suka ngebut di jalanan, suka minum-minuman keras meski tidak sampai mabuk, cara berpakaian dan berdandan mengikuti tren terbaru yang kadang kurang sesuai dengan status hamba Tuhan yang disandangnya, apakah tidak risih dengan omongan jemaatnya? Ingat, jangan hanya melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan hati nurani sendiri, tetapi pertimbangkan juga keberatan-keberatan berdasarkan hati nurani orang lain (ayat 29-30). Tujuan terakhir dari pola pikir, pola hidup, ucapan maupun perbuatan kita adalah untuk kepentingan orang banyak supaya mereka beroleh keselamatan (ayat 33). 

Ingat, kita dipilih dan dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi garam dan terang dunia. Oleh karena itu Tuhan memanggil kita untuk menjadi berkat dan bukan penghambat. Tuhan mengkhususkan hidup kita menjadi teladan dan bukan batu sandungan. 

Amin. Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Jumat, 24 Maret 2023

Rencana Tuhan dibalik Penderitaan

 SAAT TEDUH 

25 MARET 2023

Bacaan Yohanes 9:1-41


*RENCANA TUHAN DIBALIK PENDERITAAN*

_"Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam."_ Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.

(Yohanes 9:7)


Banyak orang yang mengeluh, kecewa, tidak bisa menerima dengan legawa apalagi bersyukur ketika mengalami berbagai pergumulan. Perasaan seperti itu akhirnya menjadikan dirinya lalu menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan bahkan menyalahkan Tuhan. Namun di hari ke tujuh kita membahas firman Tuhan tentang orang yang buta sejak lahir kita bisa belajar bahwa *dibalik setiap persoalan, sakit penyakit, pergumulan dan penderitaan ada rencana Tuhan yang indah*. Oleh karena itu apapun masalah, kesulitan, pergumulan dan penderitaan yang kita hadapi nantikanlah dengan sabar dan penuh syukur bahwa Tuhan akan menyatakan pekerjaan-Nya di waktu yang tepat. Jika sampai saat ini Tuhan belum mengabulkan doa kita bukan karena Ia tidak mengasihi kita. Bisa saja Tuhan menghendaki agar kita lebih dekat kepada-Nya, karena saat kita sedang baik-baik saja kita sering lupa kepada-Nya. Atau di balik setiap masalah, kesulitan, pergumulan dan penderitaan yang kita alami, Tuhan ingin kita hanya percaya dan bersandar kepada-Nya. Bisa juga Tuhan sedang menguji sejauh mana iman percaya kita kepada-Nya. Namun apapun itu, satu hal yang harus kita tahu bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi kita. 


Saudaraku terkasih, sakit penyakit boleh menggerogoti tubuh kita namun jangan sampai menggerogoti iman kita. Persoalan boleh bertubi-tubi datang dalam hidup kita namun jangan sampai melemahkan percaya kita. Penderitaan bisa saja merampas kebahagiaan kita tetapi jangan sampai merampas iman percaya kita kepada-Nya. Secara manusia orang yang buta sejak lahir sudah tidak memiliki pengharapan untuk bisa melihat karena bagi manusia itu adalah hal yang mustahil. Tetapi ketika ia bertemu Yesus, matanya diolesi tanah yang dicampur ludah-Nya serta diminta untuk membasuh di kolam Siloam, ia dapat melek dan melihat. Apa yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Tuhan. Kata Siloam berarti "Yang diutus", bisa juga memiliki makna bahwa ia yang sudah dipulihkan oleh Tuhan Yesus diutus untuk mau menjadi saksi akan kuasa Tuhan kepada banyak orang. Apakah ketika Tuhan menyatakan mujizat-Nya melalui hidup kita, kita sudah berani bersaksi tentang pekerjaan Tuhan? Mungkin itu salah satu yang kita lupakan. 

Selamat berkontempelasi, selamat bermenung diri sehingga kita bisa memahami bahwa dibalik setiap persoalan, sakit penyakit, kepedihan, kesulitan, pergumulan dan penderitaan ada rencana Tuhan yang indah bagi hidup kita. 

Amin. Selamat berakhir pekan dan selamat menyongsong minggu pra paska ke-5. Tuhan Yesus memberkati πŸ™

Kamis, 23 Maret 2023

Belajar Memahami Pekerjaan Tuhan

 SAAT TEDUH 

24 MARET 2023

Bacaan Yohanes 9:1-41


*BELAJAR MEMAHAMI PEKERJAAN TUHAN*

Jawab Yesus: _"Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia"_

(Yohanes 9:3)  


Terkadang kita sulit memahami karya dan pekerjaan Tuhan di dalam kehidupan yang kita jalani. Hal itu sering terjadi dikarenakan pikiran kita sering dibatasi oleh aturan-aturan, legalitas,  dogma dll. Pola pikir para murid juga demikian ketika melihat orang yang buta sejak lahir. Mereka terkungkung dalam pemahaman "tabur-tuai" dan "sebab-akibat" sehingga menganggap kebutaan orang tersebut disebabkan karena kesalahan atau dosa  orang buta tersebut atau dosa orang tuanya. Begitu pula orang-orang Yahudi dari golongan Farisi menganggap apa yang dilakukan Yesus sekalipun itu sebuah kebaikan namun dianggap suatu pelanggaran karena dilakukan pada hari Sabat. Bagi orang Farisi pemahaman mereka mengenai hukum keempat dari Hukum Taurat adalah larangan bagi orang untuk melakukan kegiatan apapun termasuk menyembuhkan orang sakit. Suatu pemahaman yang "saklek" alias harga mati. Mereka tidak menyadari bahwa Tuhan itu Maha Kuasa. Tidak ada satupun yang mampu menghalangi bahkan menggagalkan rencana dan karya-Nya. Sedangkan bagi Yesus hari Sabat adalah ketetapan-Nya dan setiap manusia adalah ciptaan-Nya. Maka, dengan kesadaran penuh Ia memulihkannya. Itulah makna Sabat yang seutuhnya, yakni terjadinya pemulihan bagi ciptaan-Nya, karena di hari Sabat Tuhan mencurahkan berkat-Nya (Kejadian 2:3).


Saudaraku terkasih, kitapun sering memiliki pikiran serupa dengan para murid dan juga orang-orang Farisi. Sehingga terkadang kita tidak bisa menerima dengan akal pikiran kita ketika melihat orang lain diberkati Tuhan dengan luar biasa hanya karena di dalam pandangan kita mereka itu miskin, tidak berpendidikan, tidak rajin pelayanan, dll. Sekalipun mata kita sehat dan bisa melihat dengan jelas tetapi ternyata hati kita masih "buta" sehingga tidak mampu melihat pekerjaan Tuhan dinyatakan kepada siapapun dan melalui apapun. Maka kepada para murid Yesus meluruskan pandangan mereka yang keliru bahwa tidak semua peristiwa yang terjadi dalam diri seseorang itu akibat hukum tabur tuai atau sebab akibat. Tuhan bisa memakai apapun dan siapapun untuk menyatakan pekerjaan-Nya, sehingga kita menjadi sadar bahwa manusia tidak berhak mengatur Tuhan dalam mewujudkan kehendak dan kedaulatan-Nya terhadap semua ciptaan-Nya. Jangan gunakan akal pikiran kita, kepandaian kita atau apapun dalam diri kita untuk melihat pekerjaan Tuhan. Gunakan hati dan iman kita dengan baik, maka tidak hanya mata kita tetapi juga hati kita akan mampu melihat setiap pekerjaan Tuhan dinyatakan. Dengan demikian tidak ada lagi perasaan menduga-duga dan iri hati terhadap orang lain yang hidupnya diberkati Tuhan. Berfokuslah pada berkat Tuhan yang telah kita terima dan bersyukurlah, maka hati kita yang masih buta akan dicelikkan sehingga mampu melihat setiap pekerjaan Tuhan dinyatakan. 

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Rabu, 22 Maret 2023

Sombong Rohani

 SAAT TEDUH 

23 MARET 2023

Bacaan Yohanes 9:1-41


*SOMBONG ROHANI*

Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: "Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Lalu mereka mengusir dia ke luar (Yohanes 9:28, 34)  


Kesombongan ternyata tidak hanya disebabkan oleh hal-hal yang nampak di depan mata, seperti menyombongkan kekayaan, jabatan, pendidikan, prestasi dll, melainkan juga kesombongan rohani. Kesombongan rohani biasanya muncul karena merasa dirinya hebat dalam hal-hal yang berhubungan dengan agama atau kepercayaan yang dianutnya. Ciri orang yang sombong rohani biasanya menganggap imannya lebih hebat dibanding orang lain, merasa dirinya paling suci, merasa hanya dirinya dan kelompoknya yang berhak masuk surga yang lain masuk neraka. Akibatnya mereka suka menghina dan merendahkan iman orang lain. Demikian juga yang dilakukan oleh orang-orang Farisi terhadap mantan orang buta yang disembuhkan oleh Yesus. Karena mereka tidak bisa menerima kesaksian orang buta tersebut tentang mujizat yang dialaminya serta tak mampu menjawab pertanyaan balik dari orang buta tersebut, maka orang-orang Farisi lalu mengejek, menghina dan merendahkan orang buta tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka adalah murid Musa sementara si buta hanya murid Yesus (ayat 28). Tidak berhenti di situ saja, orang-orang Farisi juga mengatakan bahwa si buta lahir dalam dosa dan tidak layak menyanggah, berdebat apalagi mengajar mereka. Mereka menganggap lebih suci, tidak mau diajar orang lain karena merasa sudah mumpuni dalam bidang keagamaan. Perlakuan mereka pun sangat diskriminatif hingga sampai hati mengusir orang buta (ayat 34b).


Saudaraku terkasih, kesombongan rohani bisa menghinggapi siapapun. Berhati-hatilah, karena kesombongan itu akan menjatuhkan diri kita sendiri. Ingat bahwa kesombongan, Kecongkakan atau tinggi hati adalah awal kejatuhan dan kehancuran seperti yang tertulis dalam kitab Amsal 16:18

_"Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan"_

Oleh karena itu belajarlah untuk rendah hati karena orang yang rendah hati justru akan ditinggikan oleh Tuhan seperti apa yang tertulis dalam kitab Matius 23:12 : _"Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan"_.

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Selasa, 21 Maret 2023

Percaya itu Butuh Proses

 SAAT TEDUH 

22 MARET 2023

Bacaan Yohanes 9:1-41


*PERCAYA ITU BUTUH PROSES*

Katanya: *_"Aku percaya, Tuhan!"_* Lalu ia sujud menyembah-Nya

(Yohanes 9:38)  


Untuk menjadi percaya kepada Tuhan Yesus bukanlah perkara yang mudah. Banyak tantangan, godaan dan hambatan yang harus dilalui. Ada yang tidak bertahan dan akhirnya _"nggliwar"_ menyangkali imannya. Tetapi orang yang mampu bertahan akan sampai pada puncak pengakuan iman percayanya kepada Tuhan Yesus. 

Firman Tuhan saat ini kita masih membahas tentang orang yang buta sejak lahir dari perspektif proses pertumbuhan iman percayanya. Sejak ia disembuhkan oleh Yesus, maka menimbulkan pertentangan di antara masyarakat Yahudi. Pertentang tersebut muncul karena Yesus menyembuhkan orang buta tersebut tepat pada hari Sabat, sehingga Yesus dianggap melakukan pelanggaran karena dianggap tidak memelihara hari Sabat. Bahkan masyarakat Yahudi yang masih taat memelihara hari Sabat mengatakan bahwa Yesus tidak datang dari Allah sebab Ia tidak memelihara hari Sabat. Namun ada pula sebagian kelompok yang ragu dan bertanya bagaimana mungkin orang berdosa dapat melakukan mujizat yang luar biasa (ayat 16). Orang-orang yang menentang atau kontra dengan peristiwa tersebut termasuk orang-orang Farisi akhirnya menanyakan langsung kepada orang buta yang telah disembuhkan Yesus. Orang buta tersebut dicecar secara bertubi-tubi baik oleh masyarakat Yahudi terlebih oleh orang-orang Farisi. Kesempatan tersebut tidak dibuang sia-sia oleh orang buta untuk bersaksi tentang mujizat yang telah diterimanya. Semula ia hanya menyebut "Orang yang disebut Yesus itu" (ayat 11). Jawaban orang buta tersebut tidak menimbulkan reaksi yang berarti. Namun karena didesak oleh orang Farisi maka ia menjawab "Ia adalah seorang nabi" (ayat  17). Melalui jawaban tersebut mulailah muncul reaksi yang luar biasa. Suasana semakin memanas dan memunculkan perdebatan yang luar biasa. Orang Yahudi terap tidak percaya dan akhirnya memanggil orang tuanya. Namun karena jawaban orangtuanya tidak memuaskan, maka orang buta tersebut dipanggil sekali lagi dan diintimidasi untuk mau mengatakan bahwa orang yang telah menyembuhkannya, yaitu Yesus adalah orang berdosa (ayat 24). Orang buta itupun menjawab dengan penuh hikmat:  "Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; *tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat."* (ayat 25). Sekalipun dibawah intimidasi orang-orang Yahudi, mantan orang buta tersebut tidak ciut nyalinya bahkan menyindir mereka dengan berkata: "Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?" (ayat 27). Merasa tersinggung atas jawaban orang buta tersebut maka mereka lalu mengusirnya. Dalam situasi yang terkucilkan dan tersingkirkan mantan orang buta tersebut bertemu Yesus dan di situlah ia menyatakan iman percayanya kepada Yesus:  *"Aku percaya, Tuhan!"* Lalu ia sujud menyembah-Nya. (ayat 38)


Saudaraku terkasih, memang tidak mudah untuk mengakui iman percaya kita kepada Tuhan Yesus. Ada proses panjang yang harus kita lalui dan terkadang bahkan sering menyakitkan dan melukai hati kita. Bisa saja kita menerima perlakuan buruk dari keluarga, masyarakat dan orang-orang yang tidak percaya akan kemesiasan Yesus. Kita bisa _"disebratkan"_ atau diusir dan tidak diakui sebagai anggota keluarga, kita dikucilkan, kita dipersulit untuk melakukan ibadah bahkan dibubarkan saat ibadah, kita sulit mendapat ijin mendirikan tempat ibadah dll. Namun tetaplah setia pada iman percaya kita. Karena Tuhan Yesus menjanjikan berkat mahkota kehidupan bagi siapapun yang setia sampai akhir seperti yang tertulis dalam kitab Wahyu 2:10

_"Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita..... Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan"_

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Lebih Takut Kepada Siapa

 SAAT TEDUH 

21 MARET 2023

Bacaan Yohanes 9:1-41


*LEBIH TAKUT KEPADA SIAPA?* 

Orang tuanya berkata demikian, karena *mereka takut kepada orang-orang Yahudi*, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, *akan dikucilkan.*

(Yohanes 9:22)  


Ternyata tidak semua orang berani bersaksi tentang kebenaran sekalipun ia telah melihat dengan mata kepala sendiri. Orang lebih senang menghindar daripada menjadi saksi yang nantinya malah akan repot sendiri. Lebih baik cari selamat dan cari aman. Begitu juga dengan orang tua dari anak yang buta sejak lahir. Sekalipun mereka telah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa anaknya telah disembuhkan oleh Yesus namun mereka berusaha untuk tidak mau terus terang demi menghindari konsekuensi kesepakatan yang telah dibuat oleh orang-orang Yahudi bahwa barangsiapa mengakui Yesus sebagai Mesias akan dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat. Tampaknya ketakutan seperti itu juga masih ada sampai sekarang.  Banyak yang percaya kepada Tuhan Yesus namun takut mengakui Ia sebagai Mesias, sebagai Tuhan yang menyelamatkan manusia dari ikatan dosa. Ada yang takut dikucilkan, takut mengalami perundungan, takut diperlakukan diskriminatif, takut sulit mencari pekerjaan dll. Mereka lebih takut kepada manusia dibanding takut kepada Tuhan. Mungkin banyak yang lupa apa yang pernah Yesus katakan: _"Sebab barangsiapa *malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu,* apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus"_

(Lukas 9:26 bd. Markus 8:38). Sekarang pilih mana? Takut kepada manusia atau takut kepada Tuhan?

Teladanilah orang yang telah disembuhkan dari kebutaannya sejak lahir. Ia tahu diri, tahu bersyukur dan berani bersaksi tentang kebenaran di depan banyak orang bahkan di hadapan orang-orang Farisi. Ia tidak takut dan tidak gentar sekalipun didebat bahkan diusir oleh orang Farisi (ayat 25-34). Dengan sepenuh hati ia menyatakan iman percayanya dan mengakui Yesus sebagai Mesias, Tuhan yang menyelamatkan. Ia pun tak ragu untuk bersujud menyembah-Nya (ayat  38). Ia memilih yang benar, lebih takut kepada Tuhan dibanding kepada manusia apapun resiko yang harus ditanggungnya. 

Saudaraku terkasih, bagaimana dengan diri kita? Berani atau takutkah kita bersaksi tentang cinta kasih Tuhan Yesus yang telah kita terima sampai saat ini? Semoga kisah ini menjadi permenungan bagi kita semua. 

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Minggu, 19 Maret 2023

Sembuh Karena Percaya

 SAAT TEDUH

20 MARET 2023

Bacaan Yohanes 9:1-41


*SEMBUH KARENA PERCAYA*

Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: _"Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam."_ Siloam artinya: "Yang diutus." Maka *pergilah orang itu, ia membasuh dirinya* lalu kembali dengan matanya sudah melek.

(Yohanes 9:6-7)


Dalam menyembuhkan penyakit seseorang Yesus bisa saja langsung berkata "sembuh" maka sembuhlah orang tersebut. Namun dalam kasus orang yang buta sejak lahir, Yesus menggunakan sarana tanah dan ludah yang dicampur lalu dioleskan ke mata orang tersebut disertai perintah agar orang tersebut membasuh dirinya ke kolam Siloam. Tentu kita juga bertanya mengapa Yesus tidak langsung melakukan mujizat tanpa pakai tanah dan ludah serta orang buta itu harus membasuh ke kolam Siloam? Ada 2 hal yang perlu kita pahami:

1. Membasuh merupakan simbol pengudusan. Yesus tidak saja ingin menyembuhkan matanya yang buta, tetapi juga menguduskan orang tersebut dari hal-hal yang kotor. Yesus tidak hanya membuat mata jasmaninya melek tetapi juga mata hatinya dapat melihat kebaikan dan kasih Tuhan, sehingga ia mampu menjadi saluran berkat bagi banyak orang. 

2. Yesus ingin tahu sejauh mana iman percaya orang buta tersebut melakukan perintah-Nya. Bisa saja orang buta itu tidak mau pergi ke kolam Siloam untuk membasuh dirinya. Bukankah ketika Yesus mengoleskan campuran tanah dan ludah ke matanya juga tidak terjadi apa-apa? Untuk apa jauh-jauh ke kolam Siloam toh tidak ada jaminan sembuh? Lebih enak berdiam diri dan terus melanjutkan profesinya sebagai pengemis? Namun ternyata bukan itu yang dilakukannya. Ia *taat dan percaya penuh tanpa keraguan* melakukan perintah Yesus.  Karena iman percayanya tersebut maka setelah ia membasuh di kolam Siloam sembuhlah matanya yang buta sejak lahir dan ia dapat melihat terang serta melihat apapun yang ada di sekitarnya. Ia tidak lagi hidup dalam kegelapan. Ia sudah bisa melihat orang-orang di sekitarnya, dapat melihat wajah orang tuanya dan melihat indahnya dunia. Hal yang belum pernah dirasakan sejak lahir. Ia sembuh karena iman percayanya kepada Tuhan Yesus. 


Saudaraku terkasih, apa hikmah yang bisa kita ambil dari hal tersebut di atas? Ketika kita punya pergumulan berat dan seolah dunia begitu gelap, sudah seharusnya kita datang kepada Tuhan untuk memohon pertolongan-Nya.  Entah itu memohon kesembuhan dari sakit penyakit, memohon berkat kecukupan,  memohon perlindungan, memohon pemulihan ekonomi keluarga, dan permohonan lainnya. Sekalipun Tuhan sanggup melakukan mujizat-Nya secara langsung namun terkadang Tuhan juga ingin tahu sejauh mana iman percaya kita kepada-Nya? Jika Tuhan Yesus saja sanggup menjadikan mata orang yang buta sejak lahir menjadi bisa melihat,  pasti Ia juga sanggup menolong menyembuhkan sakit kita, memulihkan ekonomi keluarga kita, menjadikan hidup kita sukses dan mengubahkan hidup kita  menjadi lebih baik, asalkan kita percaya kepada-Nya! 

Amin. Selamat mengawali minggu ini dengan rasa syukur dan terus semangat menjalani hari-hari dengan penuh sukacita. Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Sabtu, 18 Maret 2023

Salah Siapa

 RENUNGAN MINGGU PRA PASKA KE-4

19 MARET 2023

Bacaan Yohanes 9:1-41


*SALAH SIAPA?*

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: _"Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"_

(Yohanes 9:2) 


Ada hal unik jika kita mempelajari Injil Yohanes. Banyak tokoh yang tidak disebutkan namanya, mulai dari orang yang mengundang Yesus ke pesta pernikahan di Kana, perempuan Samaria, orang lumpuh di kolam Betesda, anak kecil yang memberikan roti dan ikan, perempuan yang akan dirajam karena berbuat zinah dan orang yang buta sejak lahir. Tentu bukan tanpa alasan Yohanes tidak menuliskan nama-nama mereka. Bagi Yohanes tekanan utama yang mau disampaikan kepada kita bukanlah soal nama seseorang melainkan soal pembaharuan hidup orang tersebut setelah bertemu dengan Yesus, sehingga mereka mampu menjadi saluran berkat dan membawa dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya.


Kisah orang yang buta sejak lahir tidak kalah menariknya dengan kisah perempuan Samaria yang sudah kita bahas selama 7 hari berturut-turut. Banyak kisah yang menceritakan mujizat Tuhan Yesus terjadi atas permohonan seseorang untuk menyembuhkan dirinya sendiri atau untuk kesembuhan saudaranya, anaknya maupun keluarganya. Namun dalam bacaan firman Tuhan saat ini, mujizat Tuhan terjadi bukan karena permintaan orang buta tersebut melainkan karena pertanyaan murid-murid-Nya sendiri seperti yang tertulis di ayat 2 : Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: _"Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"_

Sebuah kalimat tanya yang sering kita dengar baik di tengah keluarga, di tengah masyarakat, di lingkungan kerja, bahkan di tengah-tengah kehidupan berjemaat ketika terjadi sebuah kondisi atau keadaan yang tidak baik sedang menimpa seseorang. Orang cenderung menganalisa dan menduga-duga dengan pikirannya sendiri untuk mencari dan menyimpulkan siapa yang salah. Bahkan dalam sebuah diskusi pemahaman Alkitab saja sering terjadi "perang ayat" dan saling bersitegang menuduh pendapat orang lain salah karena tidak sepaham dengan pendapatnya. Sungguh memprihatinkan!!

Saling mencari siapa yang salah bisa saja dilakukan oleh seseorang karena ia tidak perlu merasa ikut bertanggung jawab atas masalah yang terjadi, setidaknya jika ada pihak yang disalahkan maka ia merasa bebas karena kesalahannya tertutupi dikarenakan sudah ada yang "ditumbalkan". Namun Yesus tidak mau terjebak dalam situasi salah menyalahkan satu sama lainnya. Karena dengan saling menyalahkan maka persoalan tidak akan pernah selesai. Yang sering terjadi justru perdebatan, percekcokan, pertengkaran, permusuhan dan perkelahian. Yesus menjawab pertanyaan para murid dengan menyatakan bahwa kebutaan orang tersebut bukan salah siapapun, melainkan karena  melalui hal itu Tuhan ingin menyatakan pekerjaan-Nya (ayat 3). Tanpa diminta oleh siapapun Tuhan Yesus memelekkan orang buta tersebut sehingga mampu melihat seperti orang lain. Tuhan Yesus lebih memilih menyembuhkan orang buta tersebut supaya ia dan orang tuanya tidak menjadi bahan _'rerasan'_, bahan pergunjingan, gosip dan menerima perlakuan yang tidak menyenangkan atas sesuatu yang dianggap salah oleh orang-orang sekitarnya. Melalui mujizat kesembuhan yang Yesus lakukan ada tujuan penting yang ingin disampaikan:

1. Tuhan Yesus sebagai Anak Manusia telah menyatakan salah satu pekerjaan Allah Bapa, yaitu membawa kesembuhan dan keselamatan (ayat 3)

2. Tuhan Yesus adalah Terang Dunia. Ia telah membuktikan mampu membuat orang yang buta sejak lahir (hidup dalam kegelapan) disembuhkan dan dapat melihat terang dan indahnya dunia ini (ayat 4)

3. Tuhan Yesus dapat memakai siapapun menjadi saksi-Nya yang luar biasa (ayat 8-34)

4. Tuhan Yesus menjadikan seseorang sadar lalu percaya akan kuasa-Nya sebagai Anak Allah (ayat 35-38).


Saudaraku terkasih, mungkin kita tidak buta secara jasmani seperti tokoh dalam kitab suci yang kita bahas saat ini. Namun sering mata hati dan mata rohani kita buta sehingga tidak mampu melihat penderitaan, melihat kebaikan dan melihat kelebihan orang lain bahkan tidak mampu melihat anugerah Tuhan yang terjadi dalam hidup kita. Hati dan pikiran kita hanya diliputi oleh kegelapan dan kebutaan sehingga yang kita lakukan hanya mencari-cari kesalahan dan menghakimi orang lain. Mintalah agar Tuhan Yesus memelekkan hati, pikiran dan iman kita sehingga kita memiliki cara pandang hidup yang baru.

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua 

Jumat, 17 Maret 2023

Tuhan Tidak Peduli Latar Belakangmu

 SAAT TEDUH AKHIR PEKAN 

18 MARET 2023

Bacaan Yohanes 4:1-42


*TUHAN TIDAK PEDULI LATAR BELAKANGMU*

Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: _"Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?"_ (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria)

(Yohanes 4:9)  


Enam hari sudah kita belajar dari kisah perempuan Samaria. Dan hari ini adalah hari ke tujuh kita masih membahas tentang perempuan Samaria. Kiranya kita dalam belajar firman Tuhan tidak bosan tetapi justru mau diperkaya dengan pengetahuan yang lebih mendalam tentang kasih Tuhan. 


Dalam pergaulan sehari-hari baik di tengah keluarga, di tengah lingkungan kerja, di tengah komunitas, di tengah masyarakat bahkan di tengah-tengah kehidupan berjemaat kita sering melihat orang pilih-pilih dalam bergaul dan berteman. Ada yang memilih berdasarkan kesamaan profesi, kesamaan hobi, kesamaan status sosial, kesamaan keyakinan, kesamaan pandangan, kesamaan suku, kesamaan asal gereja,  dan kesamaan lainnya. Cara dan sikap seperti itu pasti akan mengakibatkan kita menjadi terkotak-kotak dan sulit untuk bisa menjadi "garam dan terang" dan berkat bagi sesama. Jika kita memperhatikan dan menyimak lebih dalam perkataan perempuan Samaria kepada Yesus dalam Yohanes 4:9 _"Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?"_ (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria), maka kita akan tahu bahwa orang Yahudi tidak mau bergaul, berteman apalagi bersahabat dengan orang Samaria. Tentu ada latar belakang sejarah masa lalu yang menjadikan sikap seperti itu, sehingga bangsa Yahudi menganggap orang Samaria itu kafir karena perkawinan campur dengan bangsa non Yahudi (dan hal itu sudah pernah kita bahas pada saat teduh sebelumnya). Namun Yesus tidaklah demikian. Ia tidak memandang status, latar belakang kehidupan pribadi atau hal lainnya. Respon Yesus justru mau lebih dahului membuka pembicaraan bahkan minta minum kepada perempuan Samaria tersebut. Tentu hal itu sangat berbeda dengan perlakuan orang Yahudi pada umumnya, terlebih jika mengetahui latar belakang dan perilaku yang buruk karena sering berganti pasangan bahkan ia hidup "kumpul kebo" dengan laki-laki yang bukan suaminya (ayat 18). 


Saudaraku terkasih, dari hal tersebut di atas kita semakin tahu tentang sifat Allah di dalam Tuhan Yesus.  Allah kita bukanlah Allah yang pilih-pilih umat-Nya dengan melihat latar belakangnya. Manusia adalah makhluk yang diciptakan, dihembusi nafas Ilahi oleh Allah sendiri. Kasih dan penerimaan Tuhan kepada manusia tidak berdasar pada moral, status sosial, latar belakang, pengalaman, maupun kegagalan seseorang. Kasih-Nya kepada manusia adalah sebuah pemberian dan merupakan karunia yang tidak ternilai harganya.  Setiap orang bahkan setiap pribadi memiliki kesempatan yang sama untuk menerima dan menikmati cinta kasih Tuhan. Tak perlu ragu dan takut datang kepada Tuhan Yesus. Seburuk dan sekelam apapun hidupmu, engkau tetap diterima-Nya dengan tangan terbuka dan melalui pelukan hangat kasih-Nya, Ia akan mengampuni dan mengubah hidupmu menjadi manusia baru. Misi Yesus datang ke dunia adalah untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang  (Lukas 19:10). Ia datang ke dunia tidak sekedar ingin menebus dosa, tetapi juga berelasi dan berkomunikasi dengan manusia. Melalui percakapan yang sederhana, Yesus mau mendengarkan apa yang menjadi pergumulan dan penderitaan manusia. Yang menjadi pertanyaan adalah: "apakah ketika kita memiliki masalah, kesulitan, kegagalan, kejatuhan, ketakutan, pergumulan dan penderitaan, kita mau bercakap-cakap dengan Tuhan?". Percayalah, Tuhan Yesus mau mendengarkan, menolong dan memberi kelegaan kepada kita. Sekalipun perempuan Samaria itu belum mengakui dan menceritakan kehidupan dan identitasnya, namun Tuhan Yesus sudah tahu semuanya. Yang Yesus inginkan adalah berani berkata jujur mengakui kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan serta bertobat dan berbalik kepada-Nya. Tuhan pasti akan mengampuni dan memulihkan hidup kita. Ia adalah Bapa yang penuh kasih dan mau menerima anak-anak-Nya apa adanya tanpa melihat apalagi mengungkit-ungkit latar belakang kehidupan kita. Ketika dengan kerendahan hati kita mau mengakui dosa dan bertobat, Tuhan sanggup mengubah hati dan hidup kita menjadi baru. 

Amin. Selamat berakhir pekan, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Kamis, 16 Maret 2023

Air Hidup yang Mengisi Kekosongan Jiwa

 SAAT TEDUH 

17 MARET 2023

Bacaan Yohanes 4:1-26


*AIR HIDUP YANG MENGISI KEKOSONGAN JIWA*

Jawab Yesus kepadanya: _"Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."_

(Yohanes 4:13-14) 


Kekosongan jiwa dapat dirasakan dan dialami oleh siapapun. Begitu pula yang dialami oleh perempuan Samaria dan juga orang-orang Yahudi pada saat itu. Sekalipun mereka taat dan giat beribadah namun tanpa dapat memahami hakekat ibadah yang sesungguhnya, yaitu "kasih". Sesungguhnya orang-orang Samaria dan bangsa Yahudi berasal dari garis keturunan yang sama yaitu bapa Yakub. Namun meski demikian mereka tidak bisa saling memahami, saling mengasihi dan saling berdamai. Soal Kitab Suci mereka sama-sama mempercayai Taurat Musa, namun mereka gagal dalam  melihat Sang Mesias dalam diri Tuhan Yesus. Oleh sebab itu Yesus berkata kepada perempuan Samaria itu: _"Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu *air hidup*."_ (ayat 10).


Saudaraku terkasih, bisa saja apa yang perempuan Samaria itu rasakan juga kita rasakan. Serajin dan segiat apapun kita beribadah, berpelayanan bahkan rela berkorban waktu, harta bahkan nyawa tetapi tetap saja jiwa kita kosong dan hampa. Kita seumpama minum air sumur yang hanya bersifat sementara untuk 

melepaskan dahaga kita. Sebanyak apapun kita minum air, tetap akan haus lagi. Untuk itulah Yesus menawarkan "air hidup" yang membuat kita tidak akan haus selamanya (ayat 14). Nah, tentu kita bertanya apa yang dimaksud "air hidup" oleh Tuhan Yesus sehingga kita tidak akan pernah haus selama-lamanya tersebut? Air hidup itu adalah Roh Kudus (baca Yohanes 7:37-39), bukan air untuk mencuci kecemaran secara fisik seperti yang dipahami oleh orang Yahudi dan perempuan Samaria selama ini. Yesus tidak memberikan air seperti air dari sumur Yakub atau air yang biasa kita minum sehari-hari, namun Dia memberikan "air hidup" yaitu Roh Kudus yang akan dicurahkan setelah kenaikan-Nya ke sorga. Roh Kudus lah yang akan menggerakkan hati dan jiwa kita dalam penyembahan yang benar. Roh Kudus lah yang memperbaharui hati dan hidup kita seturut kehendak Tuhan. Roh Kudus lah yang memampukan kita memahami kebenaran firman Tuhan sehingga jiwa kita dipenuhi oleh sukacita yang melimpah. Roh Kudus juga yang menuntun hati, pikiran, jiwa dan tindakan kita untuk memuji, menyembah dan memuliakan nama Tuhan dengan sepenuh hidup kita. Roh Kudus pula yang akan memampukan kita memancarkan cinta kasih kepada Tuhan dan sesama. 

Mari kita terima "air hidup" yang Tuhan Yesus tawarkan kepada kita. Tak perlu lagi berpura-pura dalam kehidupan ibadah dan pelayanan kita yang seolah begitu luar biasa tetapi sesungguhnya jiwa kita selama ini kosong dan hampa. Mintalah agar Tuhan Yesus mencurahkan "air hidup" itu memenuhi hati dan jiwa kita, sehingga mampu menjadi mata air di dalam hidup kita yang akan terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. 

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Rabu, 15 Maret 2023

Memanusiakan Manusia

 SAAT TEDUH 

16 MARET 2023

Bacaan Yohanes 4:1-42


*MEMANUSIAKAN MANUSIA*

Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: _"Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?"_ (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 

(Yohanes 4:9)  


Tidak jarang orang memandang rendah bahkan mengkafirkan dan menajiskan orang lain karena alasan tertentu (perbedaan keyakinan, gender, profesi dll). Akibatnya mereka yang dianggap kafir dan rendah akan dijauhi, disingkirkan dan tidak dianggap. Hal itu juga menimpa diri seorang perempuan Samaria yang bertemu dengan Yesus. Ada dua aspek yang membuat perempuan Samaria tersebut dianggap rendah dan najis oleh kaum Yahudi:

1. Karena dia seorang perempuan. Di berbagai tempat (termasuk bangsa Yahudi waktu itu) kaum perempuan sering tidak mendapat perlakuan yang baik dan dianggap kelas dua dibanding laki-laki. Tidak jarang mereka direndahkan dan dilecehkan bahkan sering diperlakukan tidak seperti manusia melainkan seperti benda yang tidak memiliki hak dan martabat. 

2. Karena dia orang Samaria. Orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (ayat 9), karena dalam pandangan orang Yahudi,  orang Samaria merupakan ras yang tidak murni karena mereka kawin campur dengan bangsa asing yang menyembah berhala sehingga terjadi sinkretisme agama. Itulah sebabnya bangsa Yahudi tidak mau bergaul dengan orang Samaria karena dianggap kafir dan najis. 


Ada hal yang menarik mengapa Yohanes tidak mencantumkan nama perempuan tersebut dan lebih menekankan dari mana ia berasal yaitu Samaria. Bisa jadi Yohanes ingin menunjukkan bahwa ada seseorang perempuan Samaria yang hidupnya dijauhi oleh masyarakat dimana ia berasal karena moralnya yang kurang baik karena hobi kawin dan tinggal serumah bukan dengan suaminya (ayat 18), tetapi Tuhan Yesus justru mau bergaul dan bercakap-cakap dengan perempuan Samaria tersebut. Apa yang dilakukan oleh Yesus waktu itu tentu sangat bertentangan dengan sikap bangsa Yahudi yang tidak mau bergaul dengan orang-orang Samaria. Yesus sepertinya sengaja untuk melintasi daerah Samaria dan menemui secara pribadi perempuan Samaria yang mengambil air di sumur Yakub. Yesus ingin membuka mata orang-orang yang waktu itu merendahkan kaum perempuan dan juga menjauhi dan membenci orang Samaria. Yesus memperlakukan seorang perempuan apapun latar belakang kehidupan dan bangsanya dengan sangat manusiawi. Yesus juga tidak pernah mengkastakan orang berdasarkan status, pendidikan dan jabatan, apalagi mengkafirkan dan menajiskannya. Bagi orang-orang yang dibenci dan dijauhi oleh masyarakat Yahudi, Yesus justru menawarkan "Air Hidup" yang menyegarkan dan menyelamatkan jiwa (ayat 10). Jika minum air dari sumur maka kita akan haus lagi namun Air Hidup yang ditawarkan Tuhan Yesus akan menyegarkan jiwa, bukan hanya sementara melainkan sekali diminum akan menjadi mata air yang memancar di kedalaman hati selama-lamanya (ayat 14).


Saudaraku terkasih, apa makna yang ingin Yesus sampaikan kepada kita?

Pertama, dalam kehidupan spiritual (sebut saja beragama), bukan hanya melulu membahas tentang kesalehan, ibadah doa, penyembahan kepada Tuhan, tetapi juga harus peka dan tahu bagaimana bersikap dan mampu memperlakukan sesamanya dengan lebih manusiawi. Kedua, hidup dalam berkeyakinan juga tidak harus menghapus dan menghilangkan sisi kemanusiaan hanya karena melanggar peraturan dalam beragama. 

Ketiga, agama seharusnya bisa menjadi sarana bagi kita untuk mempertemukan kita dengan Tuhan dalam ikatan cinta kasih, persamaan hak dan martabat serta semangat untuk saling menghormati dan menghargai orang lain. 

Bagaimana dengan kehidupan beragama kita saat ini? Semoga menjadi permenungan bersama. 

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Selasa, 14 Maret 2023

Kejujuran yang Membebaskan

 SAAT TEDUH 

15 MARET 2023

Bacaan Yohanes 4:1-42


*KEJUJURAN YANG MEMBEBASKAN*

Kata perempuan itu: _"Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar."_

(Yohanes 4:17-18) 


Tidak semua orang berani mengakui aib dalam dirinya.  Bahkan sebisa mungkin ditutupi dengan rapat daripada diakui dan bikin malu. Tetapi apakah dengan berusaha menutup dan menyimpan aib atau dosa menjadikan kita ada damai sejahtera? Tidakkah dengan tetap berusaha menutup dan menyimpan aib justru akan membelengu hati, pikiran dan hidup kita dengan rasa bersalah yang dari hari ke hari akan semakin menyiksa?  Mungkin saking rapatnya kita menutupi aib sehingga tidak ada keluarga, sahabat atau orang lain yang mengetahui, tetapi kita tidak bisa menyembunyikan aib kita di hadapan Tuhan. 

Melalui perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria, kita bisa belajar tentang keterbukaan perempuan tersebut mau mengakui aib dan dosanya di hadapan Tuhan Yesus. Perempuan itu menyadari akan kelemahannya namun sekaligus mau menyatakan iman percayanya kepada Tuhan Yesus, sehingga ia dibebaskan dari belenggu rasa bersalah dan memperoleh keselamatan. Keselamatan yang telah diterimanya menjadikan perempuan Samaria tersebut bersukacita dan tanpa diminta ia mengabarkan berita keselamatan tersebut kepada orang-orang Samaria sehingga banyak jiwa yang diselamatkan. Dari hal tersebut kita dapat mengerti tentang keselamatan yang Tuhan anugerahkan ternyata tidak hanya untuk satu bangsa, dalam hal ini bangsa Yahudi  tetapi juga bagi bangsa yang dianggap kafir tetapi percaya kepada Tuhan Yesus. Keselamatan dari Tuhan tidak bersifat lokal tetapi bersifat universal (bd. Yohanes 3:16).


Saudaraku terkasih, mungkin selama ini kita mirip perempuan Samaria yang berusaha serapat mungkin menutupi aib dan dosa yang pernah dilakukan. Namun di sisi lain perempuan Samaria tersebut juga mengajarkan kepada kita untuk berani terbuka dan jujur mengakui semua aib dan dosa kita kepada Tuhan. Pada awalnya sebuah kejujuran itu memang sangat menyakitkan, terlebih setelah keluarga, sahabat dan orang lain tahu pasti kita akan menerima sanksi sosial berupa olokan, cibiran dan hal-hal lain yang tidak mengenakkan. Tapi percayalah ketika kita berani berkata jujur dan mengakui aib dan dosa kita di hadapan Tuhan, maka Tuhan akan mengampuni dan membebaskan kita dari ikatan rasa bersalah. Bisa kita umpamakan bahwa kejujuran itu seperti pisau operasi yang akan menyayat kulit dan daging kita lalu memotong kanker yang ada di tubuh kita. Memang sakit tetapi menyembuhkan. Dan inilah janji Tuhan bagi kita yang mau jujur mengakui dosa-dosanya :  *_"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan_"*

(1 Yohanes 1:9)

Dengan pengampunan Tuhan, hidup kita akan dibebaskan dari belenggu dosa dan diubahkan menjadi hidup yang baru yaitu hidup seturut dengan kehendak Tuhan. 

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Senin, 13 Maret 2023

Tuhan Maha Hadir

 SAAT TEDUH 

14 MARET 2023

Bacaan Yohanes 4:1-42


*TUHAN MAHA HADIR*

Kata Yesus kepadanya: _"Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem"_

(Yohanes 4:21)


Hari ini kita masih membahas tentang percakapan Yesus dan perempuan Samaria. Melalui percakapan tersebut kita jadi tahu bahwa nenek moyang bangsa Samaria jika ingin menyembah Tuhan maka mereka harus ke atas gunung. Sementara bangsa Yahudi harus menghadap ke kota Yerusalem (ayat  20). Namun Tuhan Yesus memberikan pembaharuan dalam hal penyembahan kepada Tuhan. *Tuhan itu Roh yang Maha Hadir,* sehingga dalam menyembah atau beribadah kepada-Nya tidak lagi harus ke gunung, ke tempat keramat/suci atau menghadap ke kota atau tempat tertentu (ayat 21). Yesus menegaskan bahwa :

_“Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran”_ 

(Yohanes 4:24). Dalam konteks ini Tuhan Yesus mengajarkan makna penyembahan yang benar:

1) *"Dalam roh"* menunjukkan tingkatan di mana terjadi *penyembahan yang benar.* Seseorang harus menghampiri Allah dengan dilandasi *hati* yang sungguh-sungguh dan *roh* yang diarahkan pada kehidupan dan tindakan *sesuai tuntunan Roh Kudus*

2) *"Kebenaran"* (bhs Yunani _'aletheia'_) adalah sifat dan karakter Allah (Mazmur 31:6; Roma 1:25; 3:7; 15:8), yang terjelma di dalam Yesus. 

Yesus Kristuslah “Kebenaran” yang sesungguhnya (Yohanes 14:6). Oleh karena itu, penyembahan harus dilaksanakan menurut *kebenaran Bapa* yang dinyatakan di dalam Anak (Yesus Kristus) dan diterima melalui Roh Kudus. Bagi mereka yang mengajarkan penyembahan terlepas dari kebenaran dan ajaran Firman Allah sebenarnya telah mengesampingkan satu-satunya landasan penyembahan yang benar. 

Untuk itu, jika kita ingin menyembah secara benar harus juga *dilandasi dengan perilaku yang benar, cara  berpikir dan berbicara yang benar* (1Korintus 5:8; Efesus 4:25). 

Mengaku bahwa kita bersekutu dengan Kristus dan memiliki keselamatan, namun jika masih hidup dalam kegelapan dan tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan, berarti kita adalah seorang pendusta (1Yohanes 1:6). 


Saudaraku terkasih, marilah kita beribadah dengan benar. Supaya penyembahan kita afdol tidak harus menyembah Tuhan dengan naik ke gunung, ke tempat keramat atau kota yang dianggap suci, karena Tuhan Maha Hadir. Tuhan dapat kita jumpai dimana saja berada. Tuhan adalah Roh yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu sembahlah Tuhan dalam roh dan kebenaran; maka hidup kita akan menghasilkan buah sukacita dan menjadi berkat bagi banyak orang untuk kemuliaan nama-Nya. 

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Minggu, 12 Maret 2023

Mengubah Hati Tanpa Menghakimi

 SAAT TEDUH 

13 MARET 2023

Bacaan Yohanes 4:1-42


*MENGUBAH HATI TANPA MENGHAKIMI*

Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: _"Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat."_

(Yohanes 4:39)  


Betapa sering kita menghakimi seseorang tanpa lebih dahulu tahu duduk persoalannya. Terlebih jika itu menyangkut sebuah tindakan yang kita anggap melanggar perintah Tuhan. Lebih parah lagi jika yang kita lakukan tidak hanya menghakimi namun juga menyebar aib orang tersebut ke orang lain bahkan menyindir di atas mimbar. Tentu jika orang tersebut mendengar atau mengetahuinya pasti akan sakit hati dan besar kemungkinan akan undur dari kehidupan berjemaat. 

Kita bisa belajar melalui bagaimana cara Tuhan Yesus memperlakukan seorang perempuan Samaria. Meski Ia tahu kehidupan pribadi perempuan tersebut khususnya dalam kehidupan perkawinan dan rumah tangganya, namun Ia sama sekali tidak menghakimi apalagi bergosip dan menyebarkan aib. Yesus bisa memahami apa yang menjadi pergumulan perempuan Samaria tersebut dan menerima apa adanya. Sekalipun orang Samaria pada waktu itu tidak bergaul dengan orang Yahudi, namun karena Yesus mau membuka percakapan dan tidak menjaga jarak atau menganggap orang Samaria sebagai orang asing, maka perempuan Samaria tersebut mau membuka diri tentang kehidupannya. Cara Yesus yang penuh perhatian, mau minta minum dan berdialog dengan penuh persahabatan mampu mengubah hati perempuan Samaria menjadi percaya bahwa Yesus adalah Kristus  yaitu Sang Mesias yang dinantikan baik oleh bangsa Yahudi maupun bangsa Samaria dan bangsa-bangsa lain. Hati perempuan Samaria yang telah diubahkan menjadi kesaksian yang luar biasa. Melalui kesaksian kepada orang-orang Samaria, banyak jiwa yang dimenangkan dan percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat Dunia seperti apa yang tertulis dalam Yohanes 4:42 :.... dan mereka berkata kepada perempuan itu: _"Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."_


Saudaraku terkasih, dari kisah tersebut kita bisa mengambil hikmahnya bahwa pendekatan secara pribadi dan tanpa menghakimi akan mampu mengubah hati. Ikut bersimpati dan berempati lebih mulia daripada menghakimi. Dengan menghakimi seakan menganggap kita lebih, baik lebih suci dan itu justru akan menambah beban luka hati. Seandainya pun ada perbedaan pandangan dan keyakinan terhadap seseorang, kita tak perlu ngotot apalagi bersitegang. Dalam pelayanan kita tidak bertujuan untuk memenangkan perdebatan melainkan memenangkan jiwa yang terhilang. Satu jiwa dimenangkan, seribu malaikat sorga bersukacita penuh pujian. Mari mengubah hati tanpa menghakimi namun ubahlah hati dengan rasa peduli dan mengasihi.  

Amin. Selamat mengawali hari dengan semangat dan kerendahan hati. Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Mengikut Aku Tidak Berjalan Dalam Kegelapan

RH 12 Maret 2023

MENGIKUT AKU TIDAK BERJALAN DALAM KEGELAPAN.

BACAAN: Yohanes 8:12-14

NAS        : “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (ay.12b).


1. Pada hari raya Pondok Daun, orang-orang Yahudi membangun pondok sekeliling Bait Allah. Pada petang hari lampu Bait Allah, yakni empat kaki dian besar dari emas (yang melambangkan tiang api Allah melintasi padang gurun di malam hari), dinyalakan (Keluaran 13:21). Dari pondok-pondok, mereka melihat terang di Bait Allah yang melambangkan terang dari Allah. 

2. Pada puncak perayaan itu, Yesus memproklamirkan diri-Nya ”Akulah terang dunia”. Barangsiapa mengikut Yesus yang adalah “Terang yang sejati”, tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup (ay.12). Terang Kristus akan menghalau kegelapan dosa dan kejahatan dalam berbagai manifestasinya. Kegelapan yang membawa manusia pada kebinasaan, dihalau oleh Terang Kristus yang membawa kehidupan.


3. Kita hidup dalam dunia yang gelap. Sejak manusia jatuh dalam dosa, kehidupan dunia dan manusia, dikuasai oleh kegelapan. Kegelapan dunia berusaha menyeret manusia masuk dalam kebinasaan. Karena itu Kristus datang sebagai Terang dunia. Terang itu adalah kehidupan manusia. Terang itu bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan tidak menguasainya (Yohanes 1: 4-5).

4. Mari, datanglah kepada Terang. Terimalah Terang itu dalam hidupmu, maka kegelapan dosa akan sirna. Dan Kristus Terang Sejati, akan berdiam dalam hidup kita, menghadirkan keselamatan yang membawa kebahagiaan. Menerima Kristus sebagai Terang dalam kehidupan kita, itulah kekuatan, sukacita, kelimpahan berkat dan kebahagiaan hidup kita. Mari kita hayati di masa prapaskah ini. 


SELAMAT BERKARYA (siz).

Jumat, 10 Maret 2023

Ketika Jiwamu Hancur

 SAAT TEDUH 

11 MARET 2023

Mazmur 51:1-19


*KETIKA JIWAMU HANCUR*

_"Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah"_

(Mazmur 51:19)


Adakah saat ini di antara kita yang sedang mengalami kehancuran? Bisnis hancur, usaha hancur,  rumah tangga hancur, studi hancur, pelayanan hancur bahkan seakan masa depan pun ikut hancur? Jika itu yang sedang kita alami, waspadalah karena setan akan memanfaatkan kita dengan dakwaan-dakwaan yang akan melemahkan sekaligus menghancurkan semangat bahkan iman kita!  Iblis atau setan akan mengatakan bahwa Tuhan tidak perduli dengan pergumulan kita, tidak peduli dengan masa depan kita, tidak peduli dengan apapun yang terjadi dalam hidup kita. Ia juga akan mendakwa kita bahwa kita sudah terlalu banyak dosa  sehingga Tuhan tidak akan mengampuni. Jika sampai kita berpaling dan mendengarkan suara-suara di luar suara Tuhan, hidup kita akan semakin hancur. 


Saudaraku terkasih, sehancur apapun hidupmu, sepatah apapun hatimu dan seremuk apapun jiwamu, Tuhan tetap mengasihimu. Apapun keadaanmu, Tuhan tetap pedulikanmu. Yang perlu engkau lakukan adalah membawa hati yang patah, hidup yang remuk dan jiwamu yang hancur kepada Tuhan. Ia sanggup memulihkan selama engkau mau menyerahkan setiap serpihan hidup, hati dan jiwamu kepada-Nya. Tuhan tidak pernah memandang hina diri kita  karena kita adalah ciptaan-Nya, milik-Nya dan anak-anak yang berharga di mata-Nya. Terkadang Tuhan mengijinkan kita hancur agar kita sadar bahwa betapa rapuh dan tidak berdayanya diri kita. Sebab di saat kita sedang hidup dilimpahi berkat terkadang menjadi lupa diri. Oleh sebab itu mari kita datang kepada Tuhan melalui saat teduh dan doa seraya membawa persembahan jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk sambil berkata: *_"Tuhan, sehancur apapun jiwaku, seremuk apapun hatiku, aku tetap bersyukur karena Engkau Bapa yang selalu pedulikan anak-Mu. Apapun boleh hilang dari hidupku asal aku tidak kehilangan diri-Mu. Bentuklah aku menjadi pribadi yang kuat melalui setiap badai kehidupan yang Engkau ijinkan. Karena aku yakin, Engkau akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya, Amin"_*

Kamis, 09 Maret 2023

Berani Mengakui Kesalahan

 SAAT TEDUH 

10 MARET 2023

Bacaan Mazmur 69:1-20


*BERANI MENGAKUI KESALAHAN*

_"Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu"_

(Mazmur 69:6)


Tidak semua orang berani mengakui kesalahan meskipun ia sadar bahwa dirinya bersalah. Hal itu bisa disebabkan karena gengsi atau harga diri terlalu tinggi.  Ada kecenderungan bahwa kita sering berusaha menutupi kesalahan dengan berbagai cara, antara lain: berdalih, tidak mau mengakui, dan yang paling banyak dilakukan adalah menyalahkan orang atau pihak lain. Memang ada beberapa orang yang bersifat ksatria dan berani mengakui kesalahan dengan jujur, tapi jumlahnya sedikit. Banyak orang menganggap bahwa dengan menutupi kesalahan  maka ia akan bebas dan harga dirinya tetap tinggi. Namun ia tidak sadar bahwa dengan melakukan hal itu batin dan hatinya tidak pernah damai sejahtera. Ia akan terus menerus dihantui rasa bersalah. Berbeda dengan orang yang berani dengan jujur mau mengakui kesalahan, mau meminta maaf dan bersedia memperbaiki tentu baik dan hatinya lebih tenang dan ada sukacita serta damai sejahtera yang dirasakannya. 


Saudaraku terkasih, saya yakin siapapun pernah melakukan kesalahan, tetapi tidak semua berani mengakui dengan jujur. Oleh sebab itu melalui firman Tuhan saat ini kita bisa belajar dari raja Daud. Dengan kesadaran dan kerendahan hati penuh Daud berani mengakui kesalahan dan kebodohan yang dilakukannya di hadapan Tuhan. Daud sadar betul bahwa serapat mungkin ia menyembunyikan kesalahan, Tuhan pasti tahu (ayat 20). Tak ada satupun yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Tuhan maha melihat dan maha tahu. Daud juga sadar bahwa kesalahan yang dilakukan akan berdampak bagi orang lain dan bagi keluarga (ayat 7, 9). Oleh karena itu Daud berdoa memohon agar Tuhan mengampuni dan memberkatinya (ayat 14). Begitulah seharusnya diri kita. Jika melakukan kesalahan akui saja dengan jujur dan meminta maaf dengan kerendahan hati serta berani menanggung resiko atas kesalahan yang kita lakukan. Percayalah, pasti kita akan dapat maaf dan juga pengampunan dari Tuhan. Pikiran, batin dan hati kita pun akan menjadi plong dan tidak terbebani oleh rasa bersalah. Firman Tuhan katakan: _"Jika kita *mengaku dosa kita*, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga *Ia akan mengampuni segala dosa kita* dan menyucikan kita dari segala kejahatan"_ 

(1 Yohanes 1:9). 

Pengampunan Tuhan akan menjadikan pikiran, batin dan hati kita dipenuhi oleh sukacita dan damai sejahtera. Jangan pernah gengsi dan malu mengakui kesalahan. Jika kita malu mengakui kesalahan, maka kesalahanlah yang akan mempermalukan diri kita.

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Rabu, 08 Maret 2023

Berserah dan Percaya

 SAAT TEDUH 

9 MARET 2023

Bacaan Mazmur 37:1-11


*BERSERAH DAN PERCAYA*

_"Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak"_

(Mazmur 37:5) 


Siapa yang biasa kita andalkan saat hidup terasa begitu sulit, banyak masalah dan pergumulan yang tak kunjung selesai? Diri sendiri, orang lain atau kita lebih memilih mengandalkan Tuhan? Jika mengandalkan diri sendiri kita pasti tidak akan mampu. Jika mengandalkan orang lain pasti ada batasnya. Namun jika kita mengandalkan Tuhan, tak ada yang mustahil bagi Dia untuk melakukan segala perkara. 

Dengan mengandalkan Tuhan di waktu kesusahan, maka kita akan dihiburkan. Demikian pula saat kita lemah akan dikuatkan, saat kita terjatuh akan diangkat, saat kita dalam keraguan ada pengharapan dan saat kita hadapi pergumulan Tuhan memberi ketenangan. 

Ada 2 hal yang harus kita lakukan ketika kita benar-benar mau mengandalkan Tuhan:

1. *Berserah* (ayat 5), yaitu menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan tanpa syarat. 

2. *Percaya* penuh kepada kuasa Tuhan (ayat 5). Dengan percaya penuh kepada Tuhan maka kuasa-Nya akan bebas bekerja atas hidup kita. Dengan percaya maka mujizat Tuhan nyata. Oleh karena percaya penyakit disembuhkan oleh-Nya. Karena percaya pula, Tuhan sanggup melepaskan kita dari berbagai pergumulan. 


Saudaraku terkasih, saat kita mengandalkan Tuhan dengan berserah dan percaya maka Tuhan akan bertindak dan Ia akan memunculkan kebenaran kita seperti terang (ayat 6).  Apapun pergumulan kita saat ini, baik sakit penyakit, kepedihan, kekecewaan, krisis, kekuatiran akan masa depan dll, dengan berdiam diri di hadapan Tuhan disertai penyerahan pada Tuhan dengan penuh keyakinan dan percaya maka kita akan merasakan mujizat-Nya terjadi atas hidup kita (ayat  7)

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Selasa, 07 Maret 2023

Kasih Jangan Pura-pura

 SAAT TEDUH 

8 MARET 2023

Bacaan Roma 12:9-21


*KASIH YANG NYATA*

_"Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik"_

(Roma 12:9) 


Kita sering menjumpai orang yang suka berpura-pura. Ada yang berpura-pura sakit, berpura-pura baik, berpura-pura menolong, berpura-pura bego, berpura-pura mati, berpura-pura tidak tahu dan kepura-puraan lainnya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia arti berpura-pura adalah: tampak berbuat (bekerja, melakukan, dan sebagainya ), tetapi sebenarnya tidak berbuat atau tidak berniat berbuat; berbuat seolah-olah; berlagak.

Firman Tuhan saat ini mengingatkan kepada kita agar tidak berpura-pura mengasihi. Kasih harus diwujudnyatakan dengan ketulusan bukan dengan kepura-puraan. Jangan mengasihi Tuhan dengan berpura-pura ibadah padahal hatinya tidak tertuju kepada-Nya. Jangan mengasihi sesama dengan berpura-pura baik padahal hatinya dipenuhi kebencian bahkan niat jahat. Apapun yang kita lakukan jika hanya berpura-pura maka kita telah melakukan dosa yaitu penipuan. 

Kasih merupakan inti ajaran Tuhan, sehingga setiap orang Kristen harus berusaha menyatakan kasih dalam semua aspek kehidupan. Kasih Tuhan kepada manusia berdosa sudah dinyatakan melalui pengorbanan Kristus. Maka kitapun juga berkewajiban menyatakan kasih kita baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. 


Saudaraku terkasih, marilah kita hidup apa adanya. Tak perlu bersandiwara atau berpura-pura. Lebih baik hidup jujur. Orang yang suka berpura-pura pasti akan mendapat malu jika kebuka kedoknya. Sedangkan orang yang jujur akan diberkati dan dikasihi Tuhan: 

_Bibir yang benar dikenan raja, dan orang yang berbicara jujur dikasihi-Nya_ ( Amsal 16:13).

Oleh karena itu mari berusaha mewujudnyatakan kasih kita tanpa berpura-pura. Kasih yang tulus tak pernah pilih-pilih. Jangankan dengan saudara, teman atau kerabat,  dengan musuhpun kita harus tetap mengasihinya. 

Amin. Selamat mengasihi dengan ketulusan dan bukan dengan kepura-puraan! Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Bahan diskusi:

1. Pernahkah Saudara berpura-pura? Dalam hal apa?

2. Apa yang Saudara rasakan saat berpura-pura? Biasa saja, santai, senang menikmatinya, atau ada rasa bersalah? Mengapa muncul rasa demikian?

3. Bagaimana cara Saudara menunjukkan kasih tanpa berpura-pura?

Memulihkan Relasi Keluarga

 SAAT TEDUH 

7 MARET 2023

Bacaan Kejadian pasal 32-33

(Sebuah permenungan masa Pra Paska)


*MEMULIHKAN RELASI KELUARGA*

_:Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka"_

(Kejadian 33:4)


Konflik dan perpecahan bisa terjadi dan menimpa siapa saja, baik antar suku, antar bangsa, antar agama, antar golongan, antar partai, antar ideologi bahkan antar pribadi dalam satu keluarga. Penyebabnya pun beraneka macam, baik karena beda persepsi,  beda wawasan, beda pemikiran,  beda pendapat, atau karena sakit hati, kecewa dll.

Kisah Yakub dan Esau merupakan salah satu contoh dimana konflik dan perpecahan serta permusuhan terjadi antara kakak dan adik kandung. Berawal dari tipu muslihat Ayub kepada Ishak ayahnya yang sudah tua dan tidak dapat melihat, untuk mendapatkan berkat sebagai anak sulung dengan cara menyamar dan mengaku sebagai Esau (Kejadian 27:1-29). Mengetahui hal itu Esau menjadi sangat marah, dendam dan ingin membunuh adiknya (Kejadian 27:31-46). Untuk menyelamatkan diri,  Ayub hidup dalam pelarian selama 20 tahun. Relasinya dengan Esau kakaknya menjadi hancur. Bisa dipastikan baik Esau maupun Yakub merasakan hati yang tidak ada damai sejahtera. Rasa marah, kesal, kecewa, dendam dan sakit hati pasti dirasakan oleh Esau. Sementara Yakub tentu merasa takut, sedih, rasa bersalah dan tidak tenang. Seiring berjalannya waktu, ternyata kedua kakak beradik tersebut dapat kembali berdamai dan hidup rukun. 


Saudaraku terkasih, bagaimana dengan relasi kita di tengah keluarga? Adakah yang sampai saat ini masih punya masalah dengan saudara sendiri, baik dengan kakak, adik, keponakan, orang tua, paman, tante serta keluarga yang lain? Haruskah itu kita pelihara dan tidak mau berdamai karena rasa gengsi? Tidakkah hal itu justru akan menyiksa diri sendiri? Sekarang saatnya dan tidak perlu menunda untuk membereskan relasi kita dengan keluarga. Jangan menambah dosa dengan menyimpan kemarahan, dendam, sakit hati dan permusuhan. Mari belajar dari Yakub dan Esau dengan cara:

1. *Milikilah keinginan untuk berdamai.* Yakub menumbuhkan dan mewujudkan niat untuk mau berdamai dengan Esau, maka ia menyampaikan keinginan tersebut kepada Esau melalui utusan (Kejadian 32:1-5)

2. *Berdoa agar dimampukan untuk berani mengakui kesalahan.* Yakub memohon kepada Tuhan agar berani mengakui kesalahan sehingga mendapat belas kasihan baik dari  Tuhan maupun dari kakaknya, sehingga Esau mau memaafkan kesalahannya (Kejadian 32:6-12).

3. *Mau meminta maaf dengan tulus dan rendah hati.* Yakub menyadari kesalahannya dan dengan rasa penyesalan yang mendalam memohon maaf kepada Esau kakaknya dengan bersujud sampai ke tanah sampai 7 kali (Kejadian 33:1-3).

4. *Kesediaan untuk mengampuni dan melupakan kesalahan.* Esau sebagai seorang kakak yang dulu begitu dendam dan ingin membunuh Yakub,  ternyata dengan berlalunya waktu bisa melupakan kesalahan adiknya. Esau sadar bahwa jika rasa marah, dendam dan sakit hati ia pelihara justru akan menambah beban pikiran yang harus dipikulnya. Dengan mengampuni dan melupakan kesalahan adiknya, Esau mampu melepaskan kuk berat yang dipikulnya selama ini. Oleh karena itu Esau segera berlari mendapatkan Yakub seraya memeluk dan mencium adiknya sebagai tanda ia telah mengampuni dan mengasihinya (Kejadian 33:4).


Mari saudara, tak perlu kita terus menyimpan dendam dan sakit hati. Itu sangat menyiksa diri. Saling meminta maaf dan saling mengampuni serta melupakan kesalahan orang lain adalah cara yang terbaik untuk membangun relasi dengan keluarga begitu juga dengan orang lain. Mari tema Masa Paska 2023 yaitu : *"Kebangkitan Kristus Menggerakkan Rekonsiliasi dan Persatuan"*, kita wujudkan dalam kehidupan. Tanpa saling memaafkan dan berdamai tentu rekonsiliasi dan persatuan tidak pernah akan terwujud dan tema Masa Pra Paska hanya akan menjadi tema yang "mati".

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

*Pertanyaan untuk diskusi:*

1. Adakah di antara kita yang sampai saat ini masih tidak akur dengan saudara sendiri? Apa yang menjadi penyebabnya?

2. Apa yang kita rasakan ketika relasi kita dengan saudara sendiri tidak baik bahkan bermusuhan?

3. Bersediakah kita mendahului untuk memperbaiki relasi yang rusak dengan cara meminta maaf? Atau kita tetap berprinsip bahwa kita yang benar dan mereka yang harus lebih dulu meminta maaf? Mengapa demikian?

4. Firman Tuhan katakan: 

_"Tetapi jikalau kamu *tidak mengampuni* orang, *Bapamu juga tidak akan mengampuni* kesalahanmu"_ (Matius 6:15). Apa penerapannya dalam kehidupan kita?


Kata mutiara:

*_"Rekonsiliasi dan persatuan akan terwujud jika dilandasi pemahaman bahwa tidak ada manusia yang hidup tanpa kesalahan dan dosa. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak saling mengakui kesalahan dan saling memaafkan"_*

Senin, 06 Maret 2023

Mengasihi Berarti Melakukan PerintahNya

 SAAT TEDUH

6 MARET 2023

Bacaan Yohanes 14:22-31

             

*MENGASIHI BERARTI MELAKUKAN PERINTAHNYA*

Jawab Yesus: _"Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia"_ (Yohanes 14:23)

 

Saudara terkasih, pernahkan saudara diperintah oleh seseorang yang tidak saudara sukai? Apa reaksi dan perasaan kita? Apakah dengan rela dan senang hati mau melakukannya? Atau sebaliknya, kita sama sekali tidak mau melakukannya? Seandainyapun ada yang mau melakukan, pasti akan dilakukan dengan berat hati dan hasilnya tidak maksimal. Bagaimana jika yang memerintah itu orang yang kita cintai dan kasihi? Bisa dipastikan kita akan senang hati dan ikhlas melakukannya, dan kita akan memberikan yang terbaik untuk menyenangkan hatinya.


Tuhan pun menginginkan supaya kita menumbuhkan rasa kasih kita kepada Tuhan. Kasih yang tumbuh berdasarkan pemahaman bahwa kita sudah diberkati dan diselamatkan-Nya. Karena tanpa kasih yang murni, tidak mungkin kita melakukan perintah Tuhan, apalagi menuruti segala perintah-Nya. Suatu kebohongan besar jika ada yang mengaku mengasihi Tuhan, tetapi tidak mau melakukan perintah-Nya. 

Melakukan segala perintah Tuhan dengan dilandasi kasih akan mendatangkan berkat:

1. *Berkat penyertaan-Nya melalui Roh Kudus* (Yoh. 14:16). Melalui Roh Kudus itulah Tuhan akan senantiasa memberikan pertolongan kepada kita saat kita mengalami pergumulan dan kesulitan. Dia pula yang akan memberikan penghiburan dan kekuatan di saat kita berduka. 

2. *Berkat pemeliharaan* (Yoh. 14:18). Kita tidak akan dibiarkan sebagai yatim piatu. Tuhan hadir sebagai Bapa kita. Ia akan mencukupi segala keperluan kita sesuai dengan kekayaan dan kemulian-Nya. 

3. *Berkat kasih Tuhan* (Yoh. 14:21). Kasih Bapa kepada kita tak bisa kita nilai dan ukur dengan apapun. Kasih-Nya begitu dalam, luas dan tinggi melebihi apapun. 


Mari lakukan semua perintah Tuhan dengan didasari oleh kasih, 

maka berkat Tuhan akan tercurah atas kita. Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™.

Minggu, 05 Maret 2023

Beriman Di Tengah Krisis

 RENUNGAN MINGGU PRA PASKAH KE-2

5 MARET 2023

Bacaan Yohanes 3:1-21


*BERIMAN DI TENGAH KRISIS*  

_"Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?"_

(Yohanes 3:12)


Untuk bisa memahami dengan benar tentang tema renungan hari ini, kita perlu mengetahui lebih dulu definisi krisis. Krisis (dari bahasa Yunani κρίσις - krisis; bentuk kata sifat: "kritis" atau kemelut) adalah setiap peristiwa yang sedang terjadi (atau diperkirakan) mengarah pada situasi tidak stabil dan berbahaya yang memengaruhi individu, kelompok, komunitas, atau seluruh masyarakat. Kita mengenal bermacam-macam krisis, antara lain: krisis ekonomi, krisis moneter, krisis kebudayaan, krisis moral, krisis kepercayaan dan juga krisis iman. 

Dalam konteks bacaan firman Tuhan saat ini yaitu tentang percakapan Nikodemus dengan Yesus bukanlah membahas tentang krisis ekonomi, budaya atau moneter dan lainnya, melainkan lebih kepada krisis keyakinan. Kita tahu bahwa Nikodemus adalah seorang Farisi, seorang yang terdidik, seorang cendekiawan. Ia juga seorang pemimpin agama Yahudi, anggota Mahkamah Agama (Sanhedrin), anggota majelis, anggota dewan penasihat, seorang berpengaruh di Yerusalem. Soal Kitab Taurat sudah pasti jago. Meski demikian Nikodemus memiliki krisis keyakinan tentang apa yang ia pelajari selama ini, terlebih mengenai Kemesiasan Yesus. Oleh sebab itu ia ingin sekali bertukar wawasan dengan Yesus karena dengan mata kepala sendiri Nikodemus menyaksikan mujizat-mujizat yang telah Yesus lakukan. Dari hasil percakapan dengan Yesus maka krisis keyakinan Nikodemus teratasi. Nah bagaimana hal itu bisa terjadi? Inilah yang dilakukan oleh Nikodemus:

1. Ia datang kepada Yesus dengan kesungguhan hati (ayat 2). Ia datang di waktu malam dimana bagi orang lain merupakan waktu untuk bersantai dan beristirahat. Tanpa kesungguhan hati tentu Nikodemus lebih memilih bersantai dan beristirahat. Bagaimana dengan diri kita? Lebih memilih memanfaatkan waktu malam untuk bersantai atau datang kepada Tuhan Yesus dengan membaca dan merenungkan firman-Nya? Krisis keyakinan dan iman biasanya terjadi karena kita lebih memilih bersantai dan berkegiatan lain yang menyenangkan hati kita dibanding datang kepada Tuhan dan mendengarkan suara-Nya.

2. Ia datang kepada Yesus dengan kerendahan hati (ayat 2). Sebagai seorang pemimpin agama yang terpandang dan terdidik, tanpa kerendahan hati tentu tidak mau datang apalagi belajar kepada Yesus yang notabene di mata Nikodemus hanyalah seorang "rabi" atau guru yang oleh golongan Farisi dan ahli-ahli Taurat dianggap musuh atau saingan. Dari sini kita bisa belajar bahwa sekalipun pendidikan kita tinggi, menjadi pemimpin, ahli kitab tidak menjamin mengerti hal-hal yang bersifat rohani tanpa dilandasi kerendahan hati untuk mau belajar tentang kebenaran kepada Tuhan Yesus. 

3. Mengakui tanda-tanda keilahian pada diri Yesus (ayat 2). Jika orang Farisi dan ahli-ahli Taurat pada umumnya tidak mau mengakui tentang tanda-tanda keilahian Yesus, Nikodemus mengakuinya. Pengakuan Nikodemus tidak hanya dinyatakan di depan Yesus saja, namun seiring bertumbuhnya keyakinan Nikodemus,  iapun berani mengakui di depan banyak orang (Yohanes 7:50; 19:39). Sampai saat ini masih banyak orang yang tidak mau mengakui keilahian Yesus. Mereka tetap menganggap Yesus hanya sebagai guru, nabi atau seorang utusan Tuhan dan tidak lebih dari itu. Oleh sebab itu mereka tetap saja masih memiliki krisis keyakinan dan "kebingungan spiritual" sehingga terus mencari kebenaran di luar Kristus, namun tak pernah mereka temukan. Mereka seperti Nikodemus sebelum bertemu secara pribadi dengan Yesus, yang memahami makna kelahiran baru dengan akal dan logika manusia. Tak heran jika mereka tak mempercayai bahwa Yesus adalah Firman Tuhan yang menjadi manusia (Yohanes 1:14), karena bagi mereka hal itu dianggap tidak masuk akal. Mereka menganggap orang Kristen menjadikan manusia sebagai Tuhan, padahal yang diimani oleh orang Kristen adalah Tuhan yang menjadi manusia di dalam Yesus Kristus. Tuhan itu kuasa-Nya tidak terbatas sehingga akal manusia tidak dapat menjangkau dan menyelaminya. Jika Allah dapat dijangkau oleh pikiran manusia, dia bukan Allah yang Maha segalanya. 

4. Nikodemus bersedia untuk dilahirkan kembali dalam Roh. Ia mengalami hidup yang baru, hal itu terbukti ia berani membela Yesus di hadapan imam-imam dan orang-orang Farisi (Yohanes 7:50) serta membawa minyak mur dan minyak gaharu saat kematian Yesus  (Yohanes 19:39).


Saudaraku terkasih, bagaimana dengan kehidupan kita sekarang? Adakah yang sedang mengalami krisis? Selama kita masih memiliki iman dan keyakinan akan kasih Tuhan di dalam Yesus, maka Tuhan akan *menyelamatkan* kita dari krisis apapun, seperti apa yang difirmankan-Nya : *_"Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia"_* (Yohanes 3:17)

Amin. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Sabtu, 04 Maret 2023

Pembalasan adalah Hak Tuhan

 SAAT TEDUH 

4 MARET 2023

Bacaan Roma 12:9-21


*PEMBALASAN ADALAH HAK TUHAN*

_"Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan"_

(Roma 12:19) 


Rasa ingin membalas pasti terlintas di benak kita, baik ketika orang berbuat kebaikan ataupun kejahatan. Jika ada orang yang pernah berbuat baik dan mau menolong saat kesusahan tentu kita ingin membalas budi atas kebaikan mereka. Begitu pula saat ada orang berbuat jahat, merendahkan kita, berlaku diskriminatif, dan perlakuan yang tidak menyenangkan lainnya, kita pun rasanya ingin membalas. Tetapi bersyukurlah karena sebagai orang Kristen kita diingatkan oleh Tuhan untuk *"tidak mengambil alih"* hak Tuhan, yaitu pembalasan. Dengan jelas dan tegas Tuhan berfirman: *_Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan", firman Tuhan_* (ayat 19)


Peristiwa yang terulang dan akan terus terulang adalah persekusi terhadap orang Kristen, baik berupa pembubaran ibadah, pelarangan mendirikan tempat ibadah, penyegelan gereja dll oleh oknum tertentu. Sebagai manusia biasa, kita pasti tidak terima diperlakukan seperti itu. Namun sebagai umat yang percaya kepada Tuhan, kita hanya bisa menyerahkan semua itu kepada Tuhan yang memiliki hak pembalasan. Namun *sebagai warga negara kita wajib berjuang untuk menuntut persamaan hak* kepada pemerintah yang sudah ditetapkan dalam undang-undang dasar 1945 pasal 29 ayat 2. Mereka yang sengaja melakukan persekusi pun seharusnya ditindak tegas berdasar undang-undang yang berlaku. Tidak cukup minta maaf di atas materai lalu selesai dan bebas! Sementara jika yang terjadi sebaliknya, maka dikenakan pasal penghinaan dan harus dihukum, padahal sebagai warga negara kedudukan kita di hadapan hukum sama seperti tercantum dalam pasal 27 ayat 1 UUD'45.


Saudaraku terkasih, jika kita sebagai seorang ayah dan tahu anak kita dipersekusi oleh orang lain, akankah kita berdiam diri? Pasti kita tidak terima dan akan membela serta melindungi anak kita apapun resikonya. Begitu pula sebagai anak-anak Tuhan, kita memiliki Allah Bapa. Percayalah, Bapa kita tidak akan tinggal diam. Dia adalah Allah yang hidup dan tidak tidur. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan sebagai anak-anak Tuhan dalam menyikapi hal tersebut?

1. Jauhi kejahatan (ayat 9)

2. Saling mengasihi (ayat 10, 20)

3. Tetap semangat melayani Tuhan (ayat 11)

4. Bersukacita dalam pengharapan (ayat 12)

5. Sabar (ayat 12)

6. Bertekun dalam doa (ayat 12)

7. Membantu dan menolong  orang lain (ayat 13)

8. Memberkati dan tidak mengutuk (ayat 14)

9. Bersimpati dan berempati  terhadap kesusahan orang lain (ayat 15)

10. Jangan merasa pandai (ayat 16)

11. Hidup berdamai dengan semua orang (ayat 18)

12. Kalahkan kejahatan dengan kebaikan (ayat 21)

Percayalah, saat kita terus melakukan perintah Bapa tersebut di atas dan tidak mengambil alih hak Tuhan, maka Bapa kita akan menunjukkan kuasa dan keadilannya.

Amin,  Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Jumat, 03 Maret 2023

Menyikapi Penderitaan

 SAAT TEDUH 

3 Maret 2023

Bacaan 2 Timotius 4:1-8


*MENYIKAPI PENDERITAAN*

_"Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!"_

(2 Timotius 4:5)


Selama kita masih hidup di dunia pasti tidak akan terlepas dari yang namanya "penderitaan". Penderitaan tidak pandang bulu, siapapun dapat mengalaminya, termasuk kita sebagai anak-anak Tuhan. Menjadi pengikut Kristus memang suatu kebahagiaan karena di dalamnya ada keselamatan.  Jangan pernah beranggapan kalau sudah percaya Kristus otomatis hidup berkelimpahan, tanpa masalah dan hidup berjalan tanpa rintangan. Jangan pula beranggapan bahwa penderitaan itu timbul akibat dosa dan kejahatan yang kita lakukan. Ingat bahwa ketika kita melakukan kebaikan, rajin beribadah, jujur, bertindak adil dan suka menolong sesama ada saja yang tidak suka bahkan mengatakan kita sok alim, sok rohani, sok suci dll. Tidak jarang karena kita hidup benar maka kita difitnah. Bahkan ketika beribadah pun ada yang membubarkan dan melarangnya. Itulah realita yang terjadi di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. 


Firman Tuhan saat ini mengingatkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menyikapi penderitaan, terlebih penderitaan karena iman percaya kita:

1. Menguasai diri dalam segala hal (ayat 5). Ketika seseorang sedang menghadapi penderitaan maka hati dan pikirannya akan kacau, emosi memuncak, mudah tersinggung, mudah marah dan tidak bisa berpikir jernih. Itu sebabnya kita perlu menguasai diri dalam segala hal, agar tidak terjatuh dalam dosa. 

2. Sabar (ayat 5). Sabar itu kata yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan. Meski demikian bukan berarti kita tidak bisa bersabar. Untuk bisa bersabar perlu latihan dengan kerendahan hati. Kesabaran akan membuat kita mampu berpikir jernih dan sehat, sehingga bisa mengambil keputusan yang benar. 

3. Tetap kabarkan berita sukacita (ayat 5). Sekalipun dalam penderitaan kita mengalami perasaan sedih dan dukacita, tetapi kita harus terus mengabarkan berita sukacita tentang keselamatan yang Tuhan anugerahkan melalui Yesus Kristus. 

4. Setia menunaikan tugas pelayanan (ayat 5). Apapun tugas pelayanan yang telah Tuhan percayakan kepada kita harus kita tunaikan sebaik mungkin. Jika pelayanan kita sebagai guru,  jadilah guru yang baik. Jika tugas pelayanan kita sebagai pegawai negeri, jadilah pegawai negeri yang baik. Begitu pula kita yang berprofesi sebagai polisi, jaksa, hakim, pedagang, petani, wirausaha, tukang, dan profesi yang lain, lakukan tugas tersebut sebaik mungkin bagi kemuliaan nama Tuhan. 


Saudaraku terkasih, penderitaan yang kita alami anggaplah sebagai gelanggang pertandingan iman yang harus kita lewati dan kita akhiri dengan kemenangan. Maka di akhir kehidupan kita sudah tersedia mahkota kebenaran (ayat 7-8).

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Kamis, 02 Maret 2023

Pertobatan

 SAAT TEDUH

2 MARET 2023

Bacaan Matius 18:1-5


*PERTOBATAN*

_"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga"_ 

(Matius 18:3)


Banyak orang mengaku dirinya sudah bertobat, tetapi perilakunya tidak menunjukkan ciri-ciri orang yang sudah bertobat. Pertobatan tidak hanya ditunjukkan dengan aktifnya beribadah setiap minggu atau dalam kegiatan gerejawi lainnya. 

Seringkali orang berpikir bahwa pertobatan adalah sekedar mengatakan maaf atas dosa-dosa. Ini bukan pertobatan! Rasul Paulus menulis, “Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.”(2 Kor. 7:10).


Jika pertobatan bukan hanya mengatakan maaf, menyesal atas perbuatan dosa-dosa, maka apa pertobatan itu? Menurut defenisi Alkitab, pertobatan adalah merobah pikiran terhadap dosa yang menghasilkan dukacita Ilahi atas dosa. Hasilnya pikiran akan berubah terhadap dosa dan berusaha untuk menjauhinya, dan kehidupan akan berubah menuju kebaikan seturut kehendakTuhan.


Pertobatan sejati itu memiliki ciri-ciri :

1) Menyadari bahwa dirinya adalah manusia berdosa yang layak mendapatkan hukuman. Raja Daud menyadari akan hal itu sehingga ia berkata "Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:7). Kondisi keberdosaan ini ada pada setiap manusia. Sehingga apapun usaha manusia tak akan mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

2) Menyadari bahwa hanya melalui iman akan pengorbanan Yesus Kristus kita beroleh keselamatan. Dosa telah menjauhkan kita dari Tuhan bahkan menjadikan kita seteru Tuhan. Melalui darah Kristus kita telah diperdamaikan dengan Allah,  “Kristus… telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran." (1 Petrus 2:24).

3) Menjadi manusia baru, dengan kesediaan untuk sungguh-sungguh bertobat dari dosa. Kita tidak  dapat menerima anugerah Tuhan tetapi tetap hidup dalam dosa. "… karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kolose 3:9-10).

Amin, Tuhan memberkati kita semua πŸ™

Rabu, 01 Maret 2023

Tuhan Bekerja di Balik Layar

 SAAT TEDUH

Bacaan Roma 8:28-30


*TUHAN SEDANG BEKERJA DI BALIK LAYAR*

_"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah"_

(Roma 8:28)


Memahami rencana Tuhan bukanlah perkara mudah. Terkadang bahkan sering rencana Tuhan bertolak belakang dengan rencana kita. Kita merencanakan sesuatu yang kita anggap baik dan membahagiakan, tetapi ternyata Tuhan tidak mengijinkan bahkan yang terjadi justru sebaliknya. Kita merencanakan untuk bekerja di sebuah perusahaan yang besar dengan gaji tinggi, tetapi Tuhan justru panggil kita bekerja di ladang-Nya dengan penghasilan yang secara pikiran manusia mungkin jauh dari kata cukup. Kita sudah berusaha hidup berkenan kepada-Nya agar diberkati dengan kelimpahan, tetapi ternyata justru penderitaanlah yang kita rasakan. 


Saudaraku terkasih, memahami rencana Tuhan mungkin sulit. Tetapi saat kita mulai berjalan didalamNya, Tuhan menolong kita untuk memahami semua yang terjadi. Airmata kerap merupakan kaca bening untuk melihat berkat yang akan datang. Jangan mengeluh karena beratnya beban hidup. Tuhan bisa memakai hal itu sebagai sarana untuk memberkati hidup kita. Ingat bahwa Tuhan turut bekerja dalam hidup kita untuk mewujudkan setiap rencana-Nya dan tidak ada satupun rencana Tuhan yang gagal. Tuhan sedang bekerja di balik layar sehingga kita tidak mampu melihatnya. Berusahalah untuk terus meyakini akan rencana dan pekerjaan Tuhan sekalipun kita begitu sulit memahaminya. Satu hal yang harus kita pegang: *TUHAN SEDANG BEKERJA UNTUK MENDATANGKAN KEBAIKAN BAGI KITA*

Yang harus kita lakukan sekarang adalah hidup mengasihi Tuhan dengan meyakini bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, itu semua dipakai oleh Tuhan agar hidup kita berjalan sesuai dengan rencana-Nya. Hidup boleh saja sukar namun jangan membuat hati kita gentar karena Tuhan sedang bekerja di balik layar!

Amin. Tuhan Yesus memberkati kita semua πŸ™

Hidup Berkemenangan

Mengatasi Ketakutan   Ketakutan adalah perasaan yang seringkali muncul ketika kita menghadapi suatu permasalahan. Raja Yosafat pun menjadi t...