Kamis, 15 Januari 2026

Hidup Berkemenangan

Mengatasi Ketakutan

 Ketakutan adalah perasaan yang seringkali muncul ketika kita menghadapi suatu permasalahan. Raja Yosafat pun menjadi takut ketika musuh bersatu untuk menyerang kerajaan Yehuda. Di saat seperti ini, apakah yang pertama-tama ia lakukan? 

Pertama, raja Yosafat berketetapan hati untuk mencari Tuhan. Ketetapan hatinya itu ia wujudkan lewat tindakannya menyerukan puasa. Berpuasa bukanlah sekedar tidak makan dan minum. Berpuasa artinya mencari hadirat Tuhan dengan merendahkan diri di hadapan-Nya agar terjadi pendamaian dengan Tuhan. Jika Tuhan berkenan mengadakan perdamaian bagi kita, maka saat itulah Ia akan mendengarkan, menjawab dan melepaskan kita dari persoalan yang menimpa kita. 

Ketika berada dalam pergumulan masalah, berpuasalah, adakanlah rekonsiliasi dengan Tuhan agar pertolongan-Nya datang kepada kita. 

Perenungan: Ketakutan seringkali melemahkan potensi kita. Saat ini, adakah hal yang membuat Anda menjadi takut? Apakah dampak dari ketakutan ini dalam hidup Anda?

Penerapan: Ambillah komitmen untuk berpuasa sebagai tanda kesungguhan hati dalam mencari pertolongan Tuhan hari ini!

Sabtu, 10 Januari 2026

Dari Sungai Yordan ke Dunia yang gentar

 RENUNGAN MINGGU KEDUA SETELAH NATAL 

11 JANUARI 2026

 Bacaan Matius 3:13-17


*DARI SUNGAI YORDAN KE DUNIA YANG GENTAR* 

 

Shalom dan selamat hari Minggu saudaraku terkasih..

Hari ini kita sudah memasuki Minggu ke-2 setelah Natal. 

Mari kita renungkan sebuah peristiwa yang terjadi di Sungai Yordan pada saat itu.

Sungai Yordan yang mengalir dengan tenang, menjadi saksi sebuah peristiwa yang akan mengubah sejarah umat manusia. Di sana, Yesus datang kepada Yohanes untuk dibaptis, dan dari sana, Ia akan melangkah ke dunia yang penuh dengan kekhawatiran, ketidakpastian, dan kebutuhan yang mendesak. Oleh karena itu tema renungan hari ini adalah *"Dari Sungai Yordan ke Dunia yang Gentar"*. 

Tema saat ini membahas tentang bagaimana peristiwa baptisan Yesus menjadi titik awal bagi misinya yang mengangkat dunia yang sedang gentar oleh berbagai peristiwa yang menjadikan manusia dilanda ketakutan, kekuatiran dan kecemasan.


Ada 3 hal penting yang dapat kita petik dari peristiwa pembaptisan Yesus di Sungai Yordan:

 

I. *Di Sungai Yordan: Tuhan Hadir Menyatu Dengan Manusia*

 

Dalam ayat 13-15, kita melihat Yesus datang kepada Yohanes untuk dibaptis. Yohanes sendiri merasa tidak layak. Ia berkata bahwa seharusnya Ia yang dibaptis oleh Yesus. Namun Yesus menjawab:

_"Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah."_ Dan Yohanes pun menuruti-Nya. (ayat 15)

 

Di Sungai Yordan, *Yesus menunjukkan bahwa Ia bersedia menyatu dengan kondisi manusia.* Ia tidak datang sebagai Raja yang jauh dan tinggi hati, melainkan sebagai Anak Manusia yang mau merasakan apa yang dirasakan oleh umat-Nya. Baptisan ini adalah tanda bahwa Ia siap masuk ke dalam dunia yang penuh dengan dosa, penderitaan, dan kebingungan, yaitu dunia yang sedang gentar menghadapi masa depan.

 

II. *Di Atas Sungai Yordan: Kenyataan Ilahi Yang Diungkapkan*

 

Ayat 16-17 mencatat bahwa setelah Yesus dibaptis dan keluar dari air, langit terbuka, Roh Kudus turun seperti burung merpati dan hinggap di atas-Nya. Kemudian suara dari sorga terdengar:

_"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."_ (ayat 17)

 

Di sinilah kita melihat bahwa dari tempat yang sederhana dan biasa seperti Sungai Yordan, kebenaran ilahi yang besar diungkapkan. Dunia yang gentar membutuhkan lebih dari sekadar seorang pemimpin manusia. Mereka membutuhkan Anak Allah yang diangkat untuk menyelamatkan mereka. *Suara dari sorga ini adalah bukti bahwa Yesus bukan hanya seorang guru atau nabi, melainkan Juruselamat yang telah ditetapkan Allah sendiri.*

 

III. **Dari Sungai Yordan ke Dunia Yang Gentar*

 

Setelah peristiwa di Sungai Yordan, Yesus langsung memasuki dunia yang sedang bergoyang. Ia menghadapi dan menyaksikan kemiskinan, penyakit, konflik, dan ketidakadilan yang membuat banyak orang gentar. Namun *Yesus tidak datang untuk menghindari masalah, melainkan untuk membawa harapan.*

 

Hari ini juga, dunia kita masih gentar menghadapi tantangan ekonomi, perpecahan sosial, degradasi etika dan moral, bencana alam, dan rasa tidak aman yang melanda banyak hati. Namun *seperti Yesus yang melangkah dari Sungai Yordan ke dunia yang membutuhkan, kita juga dipanggil untuk membawa pesan harapan yang Ia berikan*. Kita adalah orang-orang yang telah melihat dan menerima kebenaran ilahi, dan kini harus membawa cahaya itu ke tengah kegelapan yang ada di sekitar kita.

 

Saudaraku terkasih.....

Peristiwa di Sungai Yordan mengingatkan kita bahwa Allah tidak jauh dari kita dalam kesusahan kita. Ia datang kepada kita di tempat yang paling sederhana, menguatkan kita dengan Roh-Nya, dan kemudian mengutus kita ke dunia yang gentar untuk menjadi saksi kasih-Nya.

 

Mari kita bangkit dari "Sungai Yordan" dalam hidup kita; dari tempat di mana kita menerima berkat panggilan Allah dan berjalan dengan penuh keyakinan ke tengah dunia yang gentar diliputi oleh berbagai ketakutan, ketidak pastian dan membawa harapan, sukacita dan cinta kasih yang hanya bisa datang dari Juruselamat kita Yesus Kristus.


Amin. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.  Tuhan Yesus memberkati kita dengan keberanian untuk menghadapi segala kegentaran dunia 🙏

Jumat, 02 Januari 2026

Berkejaran dengan waktu

 *BERKEJARAN DENGAN WAKTU*


_*"Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam."  Mazmur 90:4*_


_Hari ini kita sudah berada di penghujung tahun 2019!  Hampir semua orang berkata:  "Ga terasa ya...waktu begitu cepat."  Dari hari ke minggu, dari minggu ke bulan, dan dari bulan ke tahun, semua berjalan seolah-olah hanya sekejap mata!  Rasa-rasanya baru kemarin kita merayakan perayaan tahun baru, tapi kini hanya tinggal hitungan jam, menit dan detik, tahun 2019 segera berakhir dan kita akan memasuki tahun yang baru.  Musa pun menyadari betapa cepatnya hari-hari yang dijalani manusia:  "Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu."  (Mazmur 90:5-6)._


_*Satu hal yang tak boleh kita lupakan adalah mengucap syukur kepada Tuhan!  Bersyukur atas penyertaan Tuhan, dan bersyukur atas campur tangan Tuhan di sepanjang tahun 2019;  tanpa Tuhan, kita tidak akan mampu menjalani hari-hari kita,  "Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku."  (Mazmur 54:6).*_


Karena waktu itu teramat singkat dan berlalunya buru-buru, marilah kita:  1.  Pergunakan waktu sebaik mungkin,  "...perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat."  (Efesus 5:15-16).  Jangan lagi suka menunda-nunda apa yang bisa dikerjakan sekarang, dengan alasan masih ada hari esok, padahal tak seorang pun tahu secara pasti apa yang akan terjadi di kemudian hari, apakah kita masih memiliki kesempatan ataukah tidak,  "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu."  (Amsal 27:1).


 2.  Kumpulkan harta di sorga  (Matius 6:19-20).  Sebelum semuanya terlambat dan timbul penyesalan, mari perbaharui komitmen kita untuk hidup menyenangkan hati Tuhan dengan meninggalkan cara hidup duniawi.  Jadikan kegagalan dan kesalahan di hari-hari kemarin sebagai pelajaran berharga untuk kita menatap hari esok.


*"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana."  Mazmur 90:12*

Gbu

Memasuki Tahun baru dengan hati Baru

 SAAT TEDUH AWAL TAHUN 

3 JANUARI 2026

Bacaan Yehezkiel 36:25-30


*MEMASUKI TAHUN BARU DENGAN HATI BARU*

_“Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”_ (Yehezkiel 36:26)


Tidak terasa  tahun 2025 telah kita lewati dan hari ini kita sudah memasuki hari ketiga di tahun 2026. Tentu banyak peristiwa yang sudah kita lalui, baik yang membahagiakan maupun yang menyedihkan. Banyak rencana yang telah terwujud, namun banyak pula yang belum terealisasi. Doa-doa kita banyak yang TUHAN kabulkan, namun ada pula yang belum dikabulkan. 

Banyak masalah yang dapat kita selesaikan, namun masalah tidak pernah akan berhenti berdatangan dan kita harus siap menghadapinya. Berkaca pada hal itu tentunya banyak pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya. Berusaha mawas diri dan berbenah itu sangat penting. Oleh karena itu sudah seharusnya kita menjadi manusia yang lebih matang dan dewasa dengan bergantinya tahun.


Saudaraku terkasih....

Mungkin ada di antara kita yang menatap tahun baru dengan tatapan penuh keraguan dan pesimis akan masa depan. Tekanan demi tekanan, pergumulan demi pergumulan,  kesulitan demi kesulitan, penderitaan demi penderitaan, sakit-penyakit yang tidak kunjung sembuh, jika disikapi dengan pesimis akan membuat manusia ragu akan kehidupan mendatang. Namun sebagai orang yang percaya kepada kasih dan kuasa TUHAN, kita harus percaya akan janji-janji-NYA. TUHAN senantiasa merancangkan damai sejahtera bagi mereka yang percaya kepada-NYA, dan bukan rancangan kecelakaan. Bahkan *IA menjanjikan kepada kita hari depan yang penuh harapan* (Yeremia 29:11).


Saudaraku terkasih... memiliki hati dan roh yang baru dalam batin kita sangat penting dalam rangka memasuki tahun yang baru. Hati dan roh kita yang diperbaharui akan menuntun kita ke arah sikap, pola pikir dan perilaku yang baru pula. Hati yang keras akan dilembutkan, kesombongan diri akan diubah menjadi kerendahan hati, sikap pemarah akan diperbaharui menjadi peramah. Jiwa dan hati yang berontak akan diubah menjadi jiwa dan hati yang taat. Ketaatan kepada TUHAN sebagai tanda hati dan roh yang baru akan mendatangkan berkat saat kita akan menjalani tahun 2026 ini. Janji damai sejahtera dan masa depan penuh harapan akan menjadi kenyataan jika kita sungguh-sungguh taat kepada TUHAN. 


Amin. 

TUHAN YESUS memberkati kita semua 🙏🙏🙏

Kamis, 27 November 2025

Mengutamakan Allah

 Renungan Harian

Bacaan: HAGAI 2:15-19

Setahun: Roma 14-16 


Mengutamakan Allah

"Sekarang, perhatikanlah mulai hari ini dan selanjutnya: Sebelum batu demi batu disusun untuk Bait Tuhan, bagaimana keadaanmu?" (Hagai 2:15-16)


Apakah yang paling kita perhatikan dalam hidup? Tuhan, sesama, ataukah justru diri kita sendiri? Sadarkah bila hal yang paling kita perhatikan dalam hidup adalah hal yang kita utamakan? Maka baiklah apabila kita melihat dan memeriksa diri kita, merenungkan serta mencoba mengoreksi, apabila mungkin kita telah salah dalam mengarahkan hidup.


Memperhatikan, menjadi pesan yang berulang kali Allah sampaikan dalam firman-Nya. "Perhatikanlah keadaanmu, " demikian firman Allah merujuk pada kondisi sebelum dan sesudah batu-batu Bait Allah diletakkan. Sebelum Bait Allah mulai dibangun kembali, segala sesuatu yang mereka buat akan hancur. Allah menghukum mereka karena bukannya memikirkan rumah-Nya, tetapi justru memikirkan diri mereka sendiri dengan mengutamakan rumah dan kebun mereka (Hag 1:4-6). Allah pun mengajak mereka memperhatikan kondisi mereka setelah Bait Allah mulai dibangun kembali, sekalipun dalam kondisi di mana mereka sudah tidak memiliki apa pun. Dalam ketiadaan tersebut, Allah justru memberikan berkat. Allah menegur mereka yang hanya memikirkan dirinya sendiri ketika mereka masih memiliki. Dengan memberikan ketiadaan, sejatinya Allah mengajak mereka kembali mengingat siapa dan dari mana mereka beroleh hidup, serta sungguh-sungguh mengutamakan Allah dalam hidup.


Seberapa pun besarnya kekuatan kita, kita manusia yang penuh keterbatasan. Untuk itu, marilah kita mengutamakan Allah dalam hidup, sebab Allah memberikan hidup bagi kita dengan mencurahkan berkat-Nya. --ZDP/www.renunganharian.net


UTAMAKANLAH ALLAH DALAM HIDUP, 

SEBAB ALLAH YANG MEMBERI HIDUP BAGI KITA.

Rabu, 19 November 2025

Hidup yang berbuah

 Renungan Harian

Bacaan: YOHANES 15:1-8

Setahun: Kisah Para Rasul 18-20 


Hidup yang Berbuah

"Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan bahwa kamu berbuah banyak dan menunjukkan kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8)


Memproduksi sendiri sepatu dan sandal dari kulit, berbekal keterampilan menjahit yang dimilikinya dan tabungan dari hasil bekerjanya, seorang ibu kemudian mengajak 25 teman sekerjanya di pabrik yang dahulu terdampak pandemi Covid-19 untuk ikut berwirausaha. Ia bahkan membantu mereka untuk mendapatkan modal melalui sistem pinjaman bersama dan menjamin bahwa cicilan mereka berjalan lancar. Produk hasil jahitannya pun semakin berkembang dan dapat menyejahterakan semuanya.


Hidup terpusat pada diri sendiri tidaklah memuliakan Tuhan. Bahkan sekalipun kita dapat merengkuh seisi dunia, hari-hari kita akan terasa kering dan tidak bermakna. Ketika kita tinggal dalam Tuhan, kita akan selalu termotivasi untuk berarti bagi-Nya dan sesama sehingga tidak ada kekosongan yang menghinggapi kita dan hidup kita pun terus menghasilkan buah. Hendaknya kita menyadari bahwa hidup kita bukanlah untuk pengejaran ambisi pribadi kita semata-mata, melainkan kita yang menemukan peran kita di dunia ini dengan mendekat kepada-Nya, akan fokus untuk berkarya bagi Tuhan dengan kemampuan terbaik yang kita miliki.


Apakah kita telah menyerahkan segenap hidup kita ke dalam tangan Tuhan sehingga melalui diri kita, Dia dapat bekerja dengan luar biasa untuk menjadikan dunia lebih baik? Sadarilah bahwa keegoisan kita tidak akan dapat memuaskan jiwa kita. Hanya dengan senantiasa berjalan bersama Tuhan saja hidup kita akan menjadi penuh arti. --KSD/www.renunganharian.net


HIDUP YANG KITA SERAHKAN KEPADA TUHAN AKAN SENANTIASA BERBUAH

SEHINGGA HARI-HARI KITA TIDAK AKAN HAMPA SERTA PENUH

DENGAN SUKACITA DAN DAMAI SEJAHTERA.

Senin, 17 November 2025

Merawat Iman

 Renungan Harian

Selasa, 18 November 2025

Bacaan: 2 PETRUS 1:3-15

Setahun: Kisah Para Rasul 14-15


 *MERAWAT IMAN* 

Karena itu, Saudara-saudara, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan keterpilihanmu makin teguh. Sebab, jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. (2 Petrus 1:10)


Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan petani supaya tanamannya berbuah. Mulai dari menyiapkan lahan, menyemai benih, menanam bibit, merawat tanaman dengan menyiram dan memupuk, mengontrol hama pengganggu dan lain sebagainya. Jika seorang petani hanya menanam benih tanpa merawatnya, mustahil tanamannya bertumbuh dengan baik, apalagi menghasilkan buah.


Iman kepada Tuhan pun perlu perawatan. Tidak cukup hanya mengaku sebagai murid Yesus lalu selesai. Iman sebagai dasar kehidupan Kristiani harus dijalankan dengan melakukan perbuatan baik. Memiliki pengetahuan tentang cara hidup yang bijaksana. Belajar menguasai diri. Bertahan dalam kesusahan. Berusaha untuk hidup semakin sesuai dengan kemauan Allah. Belajar mengasihi saudara seiman dan menyatakan kasih kepada semua orang dengan perbuatan. Dengan demikian, barulah iman kita bertumbuh dan terbukti bahwa kita benar-benar mengenal Yesus.


Iman bukanlah sesuatu yang statis. Iman harus bertumbuh. Dan pertumbuhan iman bukanlah sebuah otomatisasi yang dapat berjalan dengan sendirinya tanpa usaha. Iman memerlukan partisipasi aktif. Karena itu, pertumbuhan iman harus diupayakan. Pengakuan atas iman kepada Tuhan harus mendorong kita berusaha mengembangkan kualitas diri dengan citra Kristus. Benar bahwa proses ini tidaklah selalu mudah. Namun, ketika kita tidak bergerak maju, arus dunia akan menghanyutkan kita. Hanya ketika kita berusaha dengan sungguh-sungguh menjalankan iman kepada Tuhan, kita semakin diteguhkan dan dapat mencapai tujuan surgawi.

—EBL/www.renunganharian.net


KESELAMATAN ADALAH PANGGILAN TUHAN, TETAPI ORANG PERCAYA HARUS

MENEGUHKAN PANGGILAN DENGAN HIDUP DALAM KETAATAN

Hidup Berkemenangan

Mengatasi Ketakutan   Ketakutan adalah perasaan yang seringkali muncul ketika kita menghadapi suatu permasalahan. Raja Yosafat pun menjadi t...