Sabtu, 25 November 2023

Memberi Persembahan Terbaik

 SAAT TEDUH 

26 DESEMBER 2023

Bacaan Matius 2:1-12


*MEMBERIKAN PERSEMBAHKAN YANG TERBAIK*

Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur (Matius 2:11)  


Orang-orang Majus adalah orang-orang yang sangat giat mencari tempat kelahiran Yesus Sang Raja, berdasarkan tanda-tanda yang mereka peroleh sebagai ahli nujum dan ahli perbintangan. Tak peduli berapa jauh jarak yang akan mereka tempuh dan berapa lama waktu yang akan mereka lalui, mereka terus bertekad untuk menemukan  dan menyembah Dia. Orang-orang Majus ini menjadi contoh yang secara tidak langsung mempermalukan semua golongan bangsa Israel, baik golongan imam kepala, ahli Taurat, orang Farisi dan golongan lainnya yang merasa diri lebih dekat dengan Tuhan dibanding siapa pun. Mereka merasa lebih religius karena merasa keturunan Abraham dan merasa sebagai bangsa pilihan Allah. Sangat kontras dengan para majus yang nota bene bukan berasal dari bangsa pilihan Allah, bahkan boleh dikata bangsa kafir yang tidak menyembah Allah. Namun demikian mereka justru lebih peka untuk menyelidiki dengan saksama ketika ada fenomena langit yang tidak biasa. Mereka akhirnya memutuskan untuk berangkat dan tanpa mengenal lelah terus mencari tempat di mana Kristus dilahirkan. Perjalanan yang begitu jauh tak menyurutkan langkah mereka untuk menemukan Yesus. Tidak hanya waktu yang mereka persembahkan, namun juga hati dan harta mereka berupa emas, kemenyan dan mur.


Melalui kisah perjalanan orang-orang Majus tersebut, mari kita introspeksi diri, seberapa giatkah kita mencari dan mengenal Tuhan? Saat ini begitu banyak pelayanan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen tanpa adanya dedikasi yang tinggi dan niat untuk memberikan yang terbaik. Misal, dalam menyanyikan pujian pun kita sering memuji Tuhan  seadanya, asal bernyanyi namun tanpa hati! Atau kita terlibat dalam pelayanan ibadah, namun tanpa persiapan yang baik, yang penting asal jalan. Ikut ibadah agak lama sedikit saja rasanya sudah tidak betah, dll. Oleh karena itu Tuhan bisa saja memakai orang yang kita anggap tidak mengenal Tuhan untuk mempermalukan cara kita mencari, melayani dan menyembah Dia. Orang yang kita anggap bodoh pun bisa Tuhan pakai melalui ketekunan serta semangat perjuangannya yang patut untuk kita teladani. 

Mari di hari Natal ini kita perlu berbenah diri. Apa yang akan kita persembahkan untuk Tuhan? Sudahkah kita memberikan seluruh hidup dan hati kita sebagai persembahan yang terbaik dan yang berkenan bagi Tuhan?


*SELAMAT MENGHAYATI NATAL. KIRANYA CINTA KASIH KRISTUS MENGGERAKKAN HATI KITA UNTUK MEMBERIKAN  PERSEMBAHAN TERBAIK BAGI TUHAN.*

AMIN, TUHAN YESUS MEMBERKATI. 🙏🙏🙏


(Lukas Istiadi)

Sabtu, 04 November 2023

Gajah diblangkoni

 RENUNGAN MINGGU 

5 NOVEMBER 2023

Bacaan: Matius 23:1-12


*GAJAH DIBLANGKONI*

_“Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”_

(Matius 23:3)

 

Ada pepatah atau ungkapan dalam bahasa Jawa yang berbunyi _'gajah diblangkoni', iso kojah ora iso nglakoni'_ yang artinya pandai berkotbah atau mengajar dan menasihati namun tak bisa melakukan apalagi memberi teladan yang baik sesuai dengan kotbah atau nasihat-nasihat yang dikatakan, sehingga akan dinilai sebagai orang yang munafik dan hanya membual saja.

Satunya kata dan perbuatan merupakan salah satu sifat yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang, apalagi jika ia adalah seorang pemimpin, pendidik, orang tua atau pemuka masyarakat dan terlebih tokoh agama. Hal itu dikarenakan apa yang mereka katakan menjadi panutan banyak orang. Mereka dituntut untuk memiliki integritas yang tinggi. Sangat memprihatinkan jika mereka tidak bisa dicontoh karena ucapan mereka tidak sejalan dengan tindakannya. Apa yang diajarkan dan dikotbahkan ternyata tidak dilakukan. 


Dalam nats firman Tuhan yang kita baca saat ini, Yesus sangat mengecam para pemimpin agama yang tidak memiliki integritas. Mereka malah menjadi contoh negatif karena mereka hanya suka mengajarkan dan memperdebatkan hukum-hukum, tetapi tidak  melakukannya. Di mimbar tampak begitu luar biasa pengajarannya, tetapi dalam praktek keseharian sungguh bertolak belakang dengan isi kotbahnya. Dengan demikian, pengajaran mereka menjadi kosong dan tidak bermakna, bahkan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Mereka tidak mampu menghidupi firman Tuhan dalam praktek kehidupan nyata. 

 

Saudaraku terkasih, memiliki komitmen untuk menyelaraskan apa yang kita ajarkan dengan apa yang kita lakukan memang tidak mudah. Apalagi melakukannya secara konsisten, baik saat dilihat orang lain maupun tidak. Kuncinya adalah tekad mendisiplin diri yang tinggi, serta berani *mempertanggungjawabkan apa yang kita ajarkan sejalan dengan apa yang kita lakukan.* Maka kita akan menjadi pemimpin, pendidik, pengajar, orang tua dan hamba Tuhan yang layak dipercaya dan diteladani oleh orang lain. *Satunya kata dan perbuatan* adalah ciri pemimpin yang berintegritas tinggi. Itulah *hidup seperti yang dikehendaki Tuhan*

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua 🙏

Hidup Berkemenangan

Mengatasi Ketakutan   Ketakutan adalah perasaan yang seringkali muncul ketika kita menghadapi suatu permasalahan. Raja Yosafat pun menjadi t...