Minggu, 23 Februari 2025

Menyerahkan Kekuatiran

 SAAT TEDUH

24 FEBRUARI 2025

Bacaan Mazmur 55:17-24


*MENYERAHKAN KEKUATIRAN*

_"Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah"_(Mazmur 55:23)


Shalom dan selamat mengawali minggu ini dengan penuh semangat dan optimisme. 


Saudaraku terkasih, 

Kekuatiran bisa melanda siapapun, tak peduli pria atau wanita, tua atau muda, kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau rendah. Kekuatiran lebih banyak disebabkan karena tidak memiliki kepastian terhadap apa yang diharapkan dalam kehidupan. Biasanya yang menyebabkan munculnya rasa kuatir adalah masalah ekonomi yang menyangkut kebutuhan hidup sehari-hari, kepastian akan masa depan, dan hal yang sering tidak disadari oleh manusia adalah menempatkan Tuhan bukan pada prioritas utama dalam kehidupannya (lebih mengutamakan hal-hal duniawi seperti karir, kekayaan, jabatan dll). 

Ciri-ciri orang yang sedang mengalami kekuatiran adalah: cemas, takut, was-was, bingung, galau dll. 


Saudaraku terkasih, apakah saat ini kita juga sedang mengalami kekuatiran? Apa yang kita kuatirkan? Apakah dengan rasa kuatir itu menjadikan diri kita baik-baik saja? Apakah dengan kekuatiran lalu masalah cepat teratasi dan cepat selesai? Apakah dengan kekuatiran, relasi kita dengan Tuhan semakin dekat? Apakah kekuatiran menjadikan iman kita semakin bertumbuh dan kuat? Tentu tidak, bukan?

Oleh sebab itu Yesus berfirman: _"Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai"_ (Matius 6:25a).

Itu artinya bahwa kita tidak perlu merasa kuatir. Lalu bagaimana caranya agar kita mampu mengatasi rasa kuatir tersebut? 

*Pertama,* mari kita perhatikan firman Tuhan yang kita renungkan saat ini:  _*"Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN*, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah"_ (Mazmur 55:23).

Ya, kita harus *menyerahkan* kekuatiran kita kepada Tuhan. Kata "menyerahkan" berarti mempercayakan secara penuh seluruh kekuatiran kita kepada Tuhan. Bisa juga berarti memindahkan semua beban kekuatiran itu kepada Tuhan. Saat semua kekuatiran kita serahkan kepada Tuhan, maka Tuhan akan *memelihara* hidup kita. Kata "memelihara" artinya sangat luas. Bisa berarti menjaga, merawat, melindungi, mencukupi keperluan dan menyelamatkan. Jika Tuhan berjanji akan memelihara kita, maka percayalah bahwa Tuhan bertanggung jawab penuh atas hidup kita, atas keperluan kita, atas keselamatan kita dan juga atas masa depan kita. Tuhan adalah *Jehova Jireh*, yaitu Allah yang menyediakan semua keperluan kita menurut kekayaan dan kemulian-Nya di dalam Yesus Kristus. Oleh sebab itu mari serahkan semua kekuatiran kita kepada Tuhan, maka Tuhan tidak hanya memelihara terapi juga tidak akan membiarkan kaki kita goyah sekalipun begitu dahsyat badai kehidupan menerpa kita. 

*Kedua,*  _"Tetapi *carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,* maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu"_

(Matius 6:33).

Hal ini berarti kita harus mengubah skala prioritas hidup kita dari hal-hal yang bersifat materi menjadi hal-hal yang bersifat rohani. Kalau dulu kita menempatkan harta benda, sandang, papan, pangan, jabatan dan kekuasaan sebagai kebutuhan primer, maka ubahlah agar Tuhan yang menjadi kebutuhan primer dalam hidup kita. Yakinlah ketika kita mentaati kehendak Tuhan dan hidup dalam kebenaran menjadi prioritas utama, maka Tuhan akan menambahkan berkat-berkat-Nya terhadap apa yang kita perlukan. Maka jangan tunda lagi, serahkan semua kekuatiran kita saat ini juga. Tuhan pasti akan bertindak menolong dan mencukupi keperluan kita. 


Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua. 🙏

Sabtu, 22 Februari 2025

Terimalah damai yang kekal

 Terimalah Damai yang Kekal


Pikirkan saat Anda merasa khawatir. Bagaimana Anda menghadapinya? Mungkin Anda mencoba mengalihkan perhatian atau mungkin Anda membiarkan pikiran berpacu dengan masalah Anda. Wajar jika kita ingin menanggapi kekhawatiran dengan cara ini, tetapi Tuhan menunjukkan kepada kita cara yang lebih baik untuk menanggapinya. 


Tak lama sebelum Yesus disalibkan, Dia memberitahukan murid-murid-Nya bahwa Dia akan pergi meninggalkan mereka. Khawatir akan menjalani hidup tanpa-Nya, para murid menginginkan jawaban. Tapi bukannya memberikan respons yang mereka harapkan, Yesus menyuruh para murid-Nya untuk tetap tenang dan tidak membiarkan hati mereka cemas. 


Bayangkan betapa frustrasinya para pengikut Yesus. Mereka merasakan bahwa Yesus akan pergi, tetapi mereka mencoba menyelaraskan apa yang Dia katakan dengan ide-ide mereka untuk masa depan. 


Mereka mempertanyakan perkataan-Nya karena mereka tidak mampu memahaminya. 


Demikian juga, kita terkadang cepat untuk mencoba mencari solusi bagi permasalahan kita di saat khawatir. Kita kadang membiarkan pemahaman kita terhadap situasi yang sedang terjadi menguasai pikiran kita dan memengaruhi pembicaraan kita dengan Tuhan. Tetapi tujuan Tuhan jauh melebihi apa yang dapat kita lihat dan mengerti.


Saat Yesus menyuruh para murid untuk tenang dan tidak khawatir, Yesus melihat jauh melampaui salib–Dia melihat kebangkitan-Nya, kembali ke surga, dan kedatangan Roh Kudus.


Demikian juga, Dia melihat jauh melebihi situasi kita.


Karena kita hidup di dalam dunia yang tidak sempurna, kita akan mengalami kekecewaan dan kesukaran–namun karena kita melayani Tuhan yang baik, Dia melihat jauh melampaui hal buruk yang kita lalui. Dia melihat masa depan kita dipenuhi dengan harapan.


Yesus menyuruh murid-murid-Nya tetap tenang karena Dia ingin mereka percaya kepada-Nya. Demikian juga, Tuhan minta kita untuk tenang dalam setiap situasi sembari kita percaya kepada-Nya untuk mengatasinya demi kebaikan kita dan kemuliaan-Nya.


Jadi, luangkan waktu hari ini untuk merenungkan beberapa situasi yang menyebabkan Anda khawatir. Lalu, ambil beberapa saat untuk memberitahukan Tuhan bahwa Anda percaya kepada-Nya akan setiap perkara. Bayangkan Anda menyerahkan kepada-Nya semua kekhawatiran, dan izinkan Tuhan memberikan damai-Nya.

Kamis, 20 Februari 2025

Tuhan mendengar Tangisanmu

 SAAT TEDUH EDISI KITAB MAZMUR 

20 FEBRUARI 2025

Bacaan Mazmur 55:1-20


*TUHAN MENDENGAR TANGISANMU*

_"Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis; dan Ia mendengar suaraku"_

(Mazmur 55:18)


Setegar dan seteguh apapun seseorang, ada kalanya tak sanggup untuk menahan airmata ketika menghadapi pergumulan yang begitu berat. Baik ketika menderita sakit yang tak kunjung sembuh, kehilangan pekerjaan, melihat anak-anaknya tidak bisa bayar sekolah, kehilangan orang yang dicintai dll. Menangis itu sesuatu yang manusiawi dan merupakan respon emosional yang alami terhadap perasaan tertentu yang kebanyakan disebabkan oleh perasaan sedih. Tetapi ada kalanya orang bisa menangis saat mengalami perasaan sangat bahagia. Jadi tidak perlu malu dicap cengeng oleh orang lain, karena menangis dapat menyeimbangkan kegundahan dan kegelisahan dalam jiwa kita. 

Daud sebagai seorang raja saja juga menangis ketika sedang mengalami pergumulan berat. Ia harus melarikan diri dari kerajaan karena serangan musuh. Yang lebih menyedihkan lagi, justru orang-orang terdekatlah yang memusuhi dan ingin merebut tahtanya, yaitu Ahitofel penasehatnya dan Absalom anak kesayangannya sendiri (ayat 13-15).  Akibatnya Daud harus hidup dalam pengembaraan diliputi rasa cemas, takut, gentar dan seram (ayat 3-6). Sehingga saking beratnya pergumulan yang dihadapi, Daud berandai-andai ia memiliki sayap maka akan terbang mencari tempat yang tenang dan lari sejauh mungkin (ayat 7-8). Namun apa daya, Daud bukanlah burung yang bersayap. Ia mau tidak mau harus menghadapi realita atas kudeta yang dilakukan oleh anak kesayangannya sendiri. Tentu kita bisa membayangkan betapa hati Daud sangat sedih dan hancur. Seandainya yang melakukan hal itu bukan anak kandungnya, ia masih kuat bertahan dan tabah (ayat 13). Dalam situasi dan kondisi beban pergumulan yang begitu berat, Daud tak kuasa membendung airmatanya. Ia menangis sepanjang hari (ayat 18). Namun demikian Daud tidak pernah menyalahkan apalagi meninggalkan Tuhan. Ia yakin bahwa Tuhan akan menolongnya. Oleh sebab itu Daud berseru dalam doanya dan meyakini tanpa ragu bahwa Tuhan akan membebaskan dan menyelamatkannya (ayat 17-20).


Saudaraku terkasih, jika memang saat ini kita tak sanggup menahan airmata karena kepedihan dan duka yang mendalam, tak perlu malu atau ragu untuk menangis seraya tetap berdoa dan berseru mohon pertolongan Tuhan. Yakin dan percayalah bahwa Tuhan sanggup membebaskan dan menyelamatkan kita dari kemelut pergumulan yang sedang kita alami. Pegang janji Tuhan Yesus dalam Matius 11:28 : _*"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu"*_

Oleh karena itu mari datang kepada Tuhan Yesus dan letakkan semua beban berat yang saat ini sedang kita pikul. Percayalah, mujizat-Nya akan terus bekerja sampai kita sungguh-sungguh merasa lega. Segera ambil waktu sejenak untuk berdoa dan serahkan semua persoalan, kesulitan, pergumulan dan penderitaan yang sedang kita alami. Tak perlu malu jika kita mau menumpahkan semua rasa sedih kita dengan airmata. Tuhan akan menghapus setiap tetesan airmata dan menggantikannya dengan sukacita. Tetap optimis dan percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan segala perkara! 


Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua 🙏

Minggu, 16 Februari 2025

Hati yang mengikuti Tuhan

 Hati yang Mengikuti Tuhan


Saat kita menanam biji apel, kita berharap akan tumbuh pohon apel. Yang menentukan jenis pohon yang akan tumbuh di dalam tanah adalah biji dan akarnya. 


Demikian juga, saat kita menjadi milik Tuhan kita berharap kebaikan dan kebenaran akan tumbuh di dalam hidup kita. Buah dari perbuatan kitalah yang menyingkapkan biji apa yang telah kita tanam.


Salah satu cara untuk mengenali pekerjaan Tuhan dalam hidup kita adalah dengan mengamati buah apa yang kita hasilkan. Tanda dari hidup yang bertumbuh dalam Tuhan adalah hati yang rindu untuk hidup dan bertindak seturut dengan Firman Tuhan. Hanya orang-orang yang menghabiskan waktu dengan Tuhan yang bisa menghasilkan tindakan seperti ini dalam hidup mereka.


Yohanes memperingatkan kita untuk waspada terhadap jenis buah yang kita hasilkan dalam hidup kita. Saat kita benar-benar menjadi milik Tuhan, dan kita menghabiskan waktu bersama Dia, hidup kita akan menghasilkan kebaikan dan kebenaran secara alami. 


Tujuannya bukan untuk menyombongkan diri dengan banyaknya kebaikan yang kita lakukan, sebaliknya, untuk menumbuhkan hati yang rela berkorban untuk kebaikan orang lain dalam nama Yesus. Kita mungkin tidak sempurna, namun hati kita seharusnya ingin mengikuti Tuhan. 


Ambil beberapa saat untuk mengingat kembali semua pikiran dan tindakan Anda seminggu terakhir ini. Apakah semua itu mencerminkan hati yang memiliki hubungan intim dengan Tuhan? Pikirkan beberapa langkah yang bisa Anda ambil untuk meluangkan waktu bersama Tuhan secara teratur.

Senin, 10 Februari 2025

Buah Ketaatan

 SAAT TEDUH

11 FEBRUARI 2025

Bacaan Lukas 5:1-11


*BUAH KETAATAN*

_Dan *setelah mereka melakukannya,* mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak_ (Lukas 5:6)  


Mungkin ketika seseorang hidupnya dipenuhi kebahagiaan dan segala sesuatu berjalan mulus tanpa masalah, maka untuk menjadi taat akan terasa lebih mudah dibanding ketika hidupnya diliputi masalah, banyak pergumulan bahkan sedang dilanda penderitaan. Coba saja ketika kita sedang dalam kondisi pikiran kalut, banyak persoalan yang bikin pusing, pasti akan sulit untuk menerima nasihat atau pendapat seseorang. Kita akan berkata dalam hati "ngomong sih mudah, kamu bisa saja ngomong begitu....lha aku ini yang merasakan". Kalau pikiran dan hati sedang kalut, jangankan untuk taat, untuk tersenyum saja susahnya minta ampun.

Saudaraku terkasih, tidak ada salahnya *saat ini kita mencoba belajar memposisikan diri sebagai Simon*. Bagaimana perasaan kita ketika sudah semalaman menjala ikan tanpa istirahat dan tidur, tetapi tidak seekorpun berhasil kita tangkap? Apakah kita bisa bahagia ketika pulang dengan tangan hampa, padahal keluarga berharap setidaknya ada rejeki untuk menyambung hidup? Tentu ada perasaan kecewa, sedih, jengkel dan kesal serta rasa bersalah karena tak mampu membawa hasil apapun untuk sekedar membahagiakan keluarga. Di tengah hati yang sedang kalut, eh tiba-tiba Yesus naik ke perahu dan menyuruh kita menjauh sedikit dari pantai karena Dia akan mengajar orang banyak dari atas perahu kita. Tentu hati kita yang sedang sedih, kesal dan kecewa akan sulit menerima pengajaran firman Tuhan. Belum lagi setelah itu kita diminta mengarahkan perahu ke tempat yang dalam untuk menebar jala. Tentu perintah itu semakin membuat kita jengkel. Bagaimana tidak jengkel, perintah itu dirasa tidak masuk akal, karena menjala ikan di waktu pagi atau siang dan ditempat yang dalam adalah hal yang mustahil untuk bisa mendapatkan ikan. Semalam suntuk saja gagal apalagi hari sudah terang menjelang siang.

Tetapi ternyata kita bukanlah Simon . Apa yang dilakukan Simon berbeda dengan apa yang kita pikirkan. Ia taat melakukan perintah Yesus tanpa banyak tanya atau bahkan ngeyel. ...._"tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga"_ (ayat 5). Dan apa yang terjadi? Ketaatan Simon ternyata tidak sia-sia: _Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak_ (ayat 6).  Itulah buah ketaatan Simon. Apa yang kita anggap mustahil dan secara nalar manusia itu sesuatu yang tidak mungkin, tetapi bagi Tuhan semua serba mungkin. Sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.


Saudaraku terkasih, hari ini kita belajar tentang buah ketaatan. Kiranya hal itu mendorong kita semua untuk mau hidup taat kepada Tuhan, sehingga buah ketaatan kita dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Amin. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita dengan roh ketaatan 🙏

Sabtu, 08 Februari 2025

Bagaimana Melawan Kejahatan

 Bagaimana Melawan Kejahatan


Pada mulanya, hidup itu baik—baik secara jasmani maupun rohani. Faktanya, Tuhan menciptakan segala sesuatu yang ada dan menyebutnya sangat baik.


Namun kebaikan itu retak ketika seorang musuh membujuk manusia yang memiliki gambar dan rupa Tuhan untuk mempertanyakan kebaikan-Nya dan meragukan kredibilitas-Nya. Sehingga, ketika Adam dan Hawa memilih untuk mengabaikan perintah Tuhan dengan memakan dari satu-satunya pohon terlarang, mata mereka terbuka terhadap dua kekuatan yang berlawanan: kebaikan dan kejahatan.


Pertarungan antara kebaikan dan kejahatan bukan hanya tema menyeluruh dalam Alkitab, tapi sebuah tema yang menembus setiap benua, setiap budaya, dan setiap bangsa. Itu adalah tema yang tertera di buku dan film, dan dimainkan dalam kehidupan nyata. Dan alasannya kenapa begitu menyebar adalah karena adanya pertempuran nyata yang sedang terjadi.


Bertahun-tahun ini, kita masih berbagi dunia yang baik namun terjatuh ini. Tapi, jangan salah, Kerajaan Kegelapan masih berperang melawan Kerajaan Terang.


Rasul Paulus memberikan beberapa nasihat tentang topik ini kepada orang-orang percaya di Roma, dengan menulis:


“Janganlah kamu dikalahkan oleh kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”

Roma 12:21 PBTB2


Dalam pasal yang sama, Paulus menjelaskan cara-cara praktis untuk menghidupi hal ini: dengan menjauhi kejahatan, dengan berpegang teguh pada kebaikan, dengan tulus mengasihi sesama, dengan memberkati mereka yang menganiaya Anda dan menolak membalas dendam pada musuh Anda.


Contoh lainnya seperti mengampuni seseorang yang menyakiti Anda, menunjukkan kebaikan kepada orang asing, atau membela orang miskin, tersisih, dan lemah. Menaklukkan kejahatan dengan kebaikan membutuhkan pengorbanan dan penyerahan diri. Hal ini sering kali berarti mengatakan "tidak" pada keinginan manusiawi kita untuk menghukum dan membalas, dan sebaliknya memilih untuk dengan rendah hati melayani orang-orang yang hancur seperti Yesus yang melayani kita dengan rendah hati dan rela berkorban.


Kita memang memiliki musuh—yang misinya adalah untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan, membingungkan, memutarbalikkan, dan memecah belah, menipu, mengalihkan perhatian, dan merusak.


Namun yang lebih penting, kita memiliki Tuhan—yang misinya adalah untuk menebus, menghidupkan kembali, dan memulihkan. Dia berspesialisasi dalam menyatukan kembali hal-hal yang rusak. Dia mampu menghidupkan kembali orang mati dan membuat segala sesuatu menjadi baru.


Jadi ketika Anda melihat kejahatan mendatangkan malapetaka di seluruh dunia, dalam hidup orang-orang di sekitar Anda, dan bahkan dalam hati Anda sendiri, ingatlah… Tuhan itu lebih besar. Tuhan itu lebih hebat. Anda tidak sendirian dalam pertempuran ini. Dan karena kita sudah mengetahui akhir ceritanya, kita bisa bertarung dari tempat kemenangan!


Sama seperti kegelapan yang tidak bisa hadir saat dipenuhi cahaya, kejahatan tidak bisa menang saat dikalahkan oleh kebaikan. Jadi hari ini, pikirkan beberapa cara untuk melawan kejahatan dengan berbuat baik kepada orang-orang di sekitar Anda.

Diciptakan untuk bertumbuh

 Diciptakan untuk Bertumbuh


Ingatkah kamu bagaimana keadaanmu sebelum ditolong dan diselamatkan Tuhan? Bagaimana Dia memberimu awal yang baru, harapan yang pasti, dan masa depan lebih baik dari masa sekarang ini? 


Karena kasih Tuhan yang luar biasa, kita telah dimampukan untuk hidup dengan berani bagi-Nya.


Dalam surat Paulus kepada Titus – sahabat, rekan kerja, dan teman seperjalanannya – dia berkata:


"Karena anugerah Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil, dan beribadah di dalam dunia sekarang ini…"

Titus 2:11-12 PBTB2


Tuhan menciptakan dunia di mana hidup dapat bertumbuh, di mana ciptaan-Nya dapat berbuah, di mana pengikut-Nya dapat memerintah atas nama-Nya, dan di mana kemuliaan-Nya dapat dilihat semua orang.


Tetapi saat umat-Nya memilih untuk mengabaikan niat kasih-Nya dan saat mereka berontak melawan rencana-Nya, keadaan menjadi rumit.


Hanya oleh anugerah Tuhan keselamatan mungkin terjadi. Dan hanya atas dasar yang kuat itu kita bisa membangun kehidupan kita di atas-Nya.


Tuhan menciptakan Anda dan tahu bagaimana Anda berdetak. Dia mengasihimu dan tahu bagaimana kehidupan dirancang untuk dapat berjalan dengan baik. Bagaimanapun, Dialah perancangnya. Itu sebabnya Dia memberikan umat-Nya panduan, instruksi, dan bahkan peringatan–untuk menunjukkan kepada mereka bagaimana cara bertumbuh.


Ketika keselamatan itu dijamin dan Anda menyadari bahwa Anda tidak dapat melakukan apa pun untuk mendapatkan kasih Tuhan, baru Anda bisa menerima undangan-Nya untuk hidup, bertumbuh, dan menjadi bagian dari kisah besar di dunia. 


Anda diciptakan untuk itu.

Rabu, 05 Februari 2025

Semua Butuh Kasih Karunia

 SAAT TEDUH

6 FEBRUARI 2025

Bacaan Mazmur 53:1-7


*SEMUA BUTUH KASIH KARUNIA TUHAN*

_"Mereka semua telah menyimpang, sekaliannya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak"_ (Mazmur 53:4)


Kitab Mazmur pasal 53 ini hampir sama dengan Mazmur pasal 14. Pada intinya menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang berbuat baik karena semua telah menyimpang dari kebenaran Tuhan bahkan dikatakan bejat (ayat 4). Hal itu sama dengan firman Tuhan yang tertulis dalam kitab Roma 3:12 dan ditegaskan dalam Roma 3:23 _"Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah"_. Menyadari hal itu maka dengan cara apapun manusia tidak akan mampu memperoleh keselamatan kecuali hanya melalui kasih karunia Tuhan sebagaimana tertulis dalam Roma 3:24 _"dan oleh *kasih karunia* telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena *penebusan dalam Kristus Yesus"*_.

Oleh karena itu sebagai manusia berdosa jangan pernah merasa hebat bahwa dengan usahanya sendiri (perbuatan baik, kesalehan dll) dapat "menyuap" Tuhan untuk menghapus dosa-dosanya. Firman Tuhan dengan tegas mengatakan 

_"Sebab *karena kasih karunia* kamu diselamatkan oleh iman; itu *bukan hasil usahamu,* tetapi pemberian Allah, itu *bukan hasil pekerjaanmu:* jangan ada orang yang memegahkan diri"_ (Efesus 2:8-9).


Saudaraku terkasih, tentu kita tidak ingin menjadi orang yang bebal sebagaimana tertulis di ayat 2. _Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah!" Busuk dan jijik kecurangan mereka, tidak ada yang berbuat baik_

Dalam teks aslinya kata bebal diartikan sebagai orang yang bodoh, jahat dan tidak menghormati Tuhan.  Orang bebal dapat diartikan pula orang yng sukar sekali untuk mengerti, tidak cepat tanggap, tidak mau berubah, karena ia menolak pengertian dan pengajaran.  Jadi jika ada orang yang tetap menolak kasih karunia yang sudah Tuhan anugerahkan kepada manusia melalui Tuhan Yesus Kristus dan tetap merasa yakin bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari hukuman dosa dengan perbuatan baiknya, sesungguhnya ia adalah orang bebal. 

Mungkin ada yang bertanya: Kalau begitu kita tidak perlu berbuat baik dong, toh Tuhan sudah memberi kasih karunia? Jangan salah. Perbuatan baik itu perlu tetapi bukan sebagai syarat untuk memperoleh keselamatan. Kita diselamatkan untuk melakukan pekerjaan dan perbuatan baik yang sudah Tuhan persiapkan bagi kita sebagaimana tertulis dalam Efesus 2:10  _"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus *untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah* sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya"_

Jadi kita diselamatkan oleh Tuhan untuk melakukan perbuatan baik bukan berbuat baik supaya selamat. Perbuatan baik merupakan ucapan syukur kita kepada Tuhan karena kasih karunia-Nya yang sudah berkenan menyelamatkan kita melalui Tuhan Yesus Kristus!

Amin.  Tuhan Yesus memberkati kita semua dengan kasih karunia-Nya. 🙏

Senin, 03 Februari 2025

Paradigma Baru

 Paradigma Baru


Sebelum Yesus, umat Allah berada di bawah hukum Musa. Mengenai hal luka dan kerugian pribadi, peraturannya jelas dan tampak adil: mata ganti mata, gigi ganti gigi (Keluaran 21:24). Pada dasarnya, untuk setiap luka yang ditimbulkan oleh seseorang, luka yang sama harus ditimpakan kepada orang tersebut.


Namun kemudian, Yesus datang. Yesus membalikkan gagasan tentang keadilan. Dalam Khotbah di Bukit yang terkenal dalam Matius 5, Yesus berkata: 


"Kamu telah mendengar yang difirmankan: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu."

Matius 5:38-39 PBTB2


Yesus tidak hanya mengubah pemahaman umat Tuhan tentang cara mereka memperlakukan orang lain. Dia mengkhotbahkan paradigma yang benar-benar baru:


Kasihilah orang lain meskipun mereka membencimu. 

Layanilah orang lain meskipun mereka berlaku buruk kepadamu. 

Berdoalah untuk orang lain meskipun mereka bersalah kepadamu.


Rasul Petrus, yang kemungkinan besar menulis kitab 1 dan 2 Petrus, adalah salah satu murid Yesus pada masa Khotbah di Bukit. Dalam suratnya kepada orang-orang percaya bertahun-tahun setelah kematian dan kebangkitan Yesus, Petrus mengulangi ajaran Yesus:


Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat."

1 Petrus 3:9 PBTB2


Tidak ada sesuatu pun yang Yesus minta dari kita tanpa Ia teladani. Jika Dia bertindak berdasarkan paradigma mata ganti mata, gigi ganti gigi, bagaimana kita bisa diselamatkan melalui pengorbanan-Nya? Karena kasih dan pengampunan yang murni, Yesus memberikan nyawa-Nya bagi kita. Ia menawarkan paradigma baru. Dia mengajari kita cara yang lebih baik.

Hidup Berkemenangan

Mengatasi Ketakutan   Ketakutan adalah perasaan yang seringkali muncul ketika kita menghadapi suatu permasalahan. Raja Yosafat pun menjadi t...