SAAT TEDUH
26 APRIL 2023
Bacaan 1 Korintus 10:23-33
*JANGAN JADI BATU SANDUNGAN*
_"Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberatan hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu. Mungkin ada orang yang berkata: "Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain?"_
(1 Korintus 10:29)
Setiap pelayan Tuhan, baik pendeta, penginjil, guru agama, anggota majelis, atau apapun sebutannya pasti hidupnya menjadi sorotan orang lain. Baik pikiran, ucapan maupun perilakunya akan dijadikan pedoman atau tolok ukur bagi jemaat dan orang lain. Jika apa yang dipikir, diucapkan dan dilakukan salah maka sangat berbahaya jika ditiru oleh mereka yang belum dewasa rohani. Mereka menganggap kalau yang mereka lakukan benar karena hal tersebut juga dilakukan oleh seorang hamba atau pelayanan Tuhan.
Pertanyaannya adalah: Apakah dengan demikian sebagai pelayan atau hamba Tuhan tidak boleh berbuat ini dan itu? Tentu boleh selama hal itu tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Apakah seorang pelayan Tuhan tidak boleh kaya? Tentu boleh selama hasil kekayaannya diperoleh dengan cara yang benar dan tidak dipamerkan di media sosial. Apakah ada larangan tertentu untuk makan dan minum bagi pelayan Tuhan? Tentu tidak selama makanan dan minuman tersebut tidak menjadi batu sandungan. Dengan tegas rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat di Korintus tentang hal tersebut:
_"Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah"_
(1 Korintus 10:31-32)
Saudaraku terkasih, mungkin ada yang berpendapat bahwa kita punya kebebasan untuk melakukan apapun selama itu tidak merugikan orang lain, toh pakai uang sendiri, biaya sendiri, ngapain ngurusi pendapat orang lain? Mungkin kalau hidup kita tidak menjadi sorotan dan dipakai sebagai tolok ukur dalam beretika tidak begitu berpengaruh bagi orang lain. Namun jabatan sebagai pelayan atau hamba Tuhan bisa dipastikan akan menjadi sorotan. Kita tidak bisa terlepas dari hal tersebut. Sebagai contoh sederhana, bagaimana jika ada pendeta atau hamba Tuhan yang suka ngebut di jalanan, suka minum-minuman keras meski tidak sampai mabuk, cara berpakaian dan berdandan mengikuti tren terbaru yang kadang kurang sesuai dengan status hamba Tuhan yang disandangnya, apakah tidak risih dengan omongan jemaatnya? Ingat, jangan hanya melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan hati nurani sendiri, tetapi pertimbangkan juga keberatan-keberatan berdasarkan hati nurani orang lain (ayat 29-30). Tujuan terakhir dari pola pikir, pola hidup, ucapan maupun perbuatan kita adalah untuk kepentingan orang banyak supaya mereka beroleh keselamatan (ayat 33).
Ingat, kita dipilih dan dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi garam dan terang dunia. Oleh karena itu Tuhan memanggil kita untuk menjadi berkat dan bukan penghambat. Tuhan mengkhususkan hidup kita menjadi teladan dan bukan batu sandungan.
Amin. Tuhan Yesus memberkati kita semua 🙏
Tidak ada komentar:
Posting Komentar