Selasa, 07 Maret 2023

Memulihkan Relasi Keluarga

 SAAT TEDUH 

7 MARET 2023

Bacaan Kejadian pasal 32-33

(Sebuah permenungan masa Pra Paska)


*MEMULIHKAN RELASI KELUARGA*

_:Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka"_

(Kejadian 33:4)


Konflik dan perpecahan bisa terjadi dan menimpa siapa saja, baik antar suku, antar bangsa, antar agama, antar golongan, antar partai, antar ideologi bahkan antar pribadi dalam satu keluarga. Penyebabnya pun beraneka macam, baik karena beda persepsi,  beda wawasan, beda pemikiran,  beda pendapat, atau karena sakit hati, kecewa dll.

Kisah Yakub dan Esau merupakan salah satu contoh dimana konflik dan perpecahan serta permusuhan terjadi antara kakak dan adik kandung. Berawal dari tipu muslihat Ayub kepada Ishak ayahnya yang sudah tua dan tidak dapat melihat, untuk mendapatkan berkat sebagai anak sulung dengan cara menyamar dan mengaku sebagai Esau (Kejadian 27:1-29). Mengetahui hal itu Esau menjadi sangat marah, dendam dan ingin membunuh adiknya (Kejadian 27:31-46). Untuk menyelamatkan diri,  Ayub hidup dalam pelarian selama 20 tahun. Relasinya dengan Esau kakaknya menjadi hancur. Bisa dipastikan baik Esau maupun Yakub merasakan hati yang tidak ada damai sejahtera. Rasa marah, kesal, kecewa, dendam dan sakit hati pasti dirasakan oleh Esau. Sementara Yakub tentu merasa takut, sedih, rasa bersalah dan tidak tenang. Seiring berjalannya waktu, ternyata kedua kakak beradik tersebut dapat kembali berdamai dan hidup rukun. 


Saudaraku terkasih, bagaimana dengan relasi kita di tengah keluarga? Adakah yang sampai saat ini masih punya masalah dengan saudara sendiri, baik dengan kakak, adik, keponakan, orang tua, paman, tante serta keluarga yang lain? Haruskah itu kita pelihara dan tidak mau berdamai karena rasa gengsi? Tidakkah hal itu justru akan menyiksa diri sendiri? Sekarang saatnya dan tidak perlu menunda untuk membereskan relasi kita dengan keluarga. Jangan menambah dosa dengan menyimpan kemarahan, dendam, sakit hati dan permusuhan. Mari belajar dari Yakub dan Esau dengan cara:

1. *Milikilah keinginan untuk berdamai.* Yakub menumbuhkan dan mewujudkan niat untuk mau berdamai dengan Esau, maka ia menyampaikan keinginan tersebut kepada Esau melalui utusan (Kejadian 32:1-5)

2. *Berdoa agar dimampukan untuk berani mengakui kesalahan.* Yakub memohon kepada Tuhan agar berani mengakui kesalahan sehingga mendapat belas kasihan baik dari  Tuhan maupun dari kakaknya, sehingga Esau mau memaafkan kesalahannya (Kejadian 32:6-12).

3. *Mau meminta maaf dengan tulus dan rendah hati.* Yakub menyadari kesalahannya dan dengan rasa penyesalan yang mendalam memohon maaf kepada Esau kakaknya dengan bersujud sampai ke tanah sampai 7 kali (Kejadian 33:1-3).

4. *Kesediaan untuk mengampuni dan melupakan kesalahan.* Esau sebagai seorang kakak yang dulu begitu dendam dan ingin membunuh Yakub,  ternyata dengan berlalunya waktu bisa melupakan kesalahan adiknya. Esau sadar bahwa jika rasa marah, dendam dan sakit hati ia pelihara justru akan menambah beban pikiran yang harus dipikulnya. Dengan mengampuni dan melupakan kesalahan adiknya, Esau mampu melepaskan kuk berat yang dipikulnya selama ini. Oleh karena itu Esau segera berlari mendapatkan Yakub seraya memeluk dan mencium adiknya sebagai tanda ia telah mengampuni dan mengasihinya (Kejadian 33:4).


Mari saudara, tak perlu kita terus menyimpan dendam dan sakit hati. Itu sangat menyiksa diri. Saling meminta maaf dan saling mengampuni serta melupakan kesalahan orang lain adalah cara yang terbaik untuk membangun relasi dengan keluarga begitu juga dengan orang lain. Mari tema Masa Paska 2023 yaitu : *"Kebangkitan Kristus Menggerakkan Rekonsiliasi dan Persatuan"*, kita wujudkan dalam kehidupan. Tanpa saling memaafkan dan berdamai tentu rekonsiliasi dan persatuan tidak pernah akan terwujud dan tema Masa Pra Paska hanya akan menjadi tema yang "mati".

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua 🙏

*Pertanyaan untuk diskusi:*

1. Adakah di antara kita yang sampai saat ini masih tidak akur dengan saudara sendiri? Apa yang menjadi penyebabnya?

2. Apa yang kita rasakan ketika relasi kita dengan saudara sendiri tidak baik bahkan bermusuhan?

3. Bersediakah kita mendahului untuk memperbaiki relasi yang rusak dengan cara meminta maaf? Atau kita tetap berprinsip bahwa kita yang benar dan mereka yang harus lebih dulu meminta maaf? Mengapa demikian?

4. Firman Tuhan katakan: 

_"Tetapi jikalau kamu *tidak mengampuni* orang, *Bapamu juga tidak akan mengampuni* kesalahanmu"_ (Matius 6:15). Apa penerapannya dalam kehidupan kita?


Kata mutiara:

*_"Rekonsiliasi dan persatuan akan terwujud jika dilandasi pemahaman bahwa tidak ada manusia yang hidup tanpa kesalahan dan dosa. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak saling mengakui kesalahan dan saling memaafkan"_*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hidup Berkemenangan

Mengatasi Ketakutan   Ketakutan adalah perasaan yang seringkali muncul ketika kita menghadapi suatu permasalahan. Raja Yosafat pun menjadi t...