Kamis, 27 November 2025

Mengutamakan Allah

 Renungan Harian

Bacaan: HAGAI 2:15-19

Setahun: Roma 14-16 


Mengutamakan Allah

"Sekarang, perhatikanlah mulai hari ini dan selanjutnya: Sebelum batu demi batu disusun untuk Bait Tuhan, bagaimana keadaanmu?" (Hagai 2:15-16)


Apakah yang paling kita perhatikan dalam hidup? Tuhan, sesama, ataukah justru diri kita sendiri? Sadarkah bila hal yang paling kita perhatikan dalam hidup adalah hal yang kita utamakan? Maka baiklah apabila kita melihat dan memeriksa diri kita, merenungkan serta mencoba mengoreksi, apabila mungkin kita telah salah dalam mengarahkan hidup.


Memperhatikan, menjadi pesan yang berulang kali Allah sampaikan dalam firman-Nya. "Perhatikanlah keadaanmu, " demikian firman Allah merujuk pada kondisi sebelum dan sesudah batu-batu Bait Allah diletakkan. Sebelum Bait Allah mulai dibangun kembali, segala sesuatu yang mereka buat akan hancur. Allah menghukum mereka karena bukannya memikirkan rumah-Nya, tetapi justru memikirkan diri mereka sendiri dengan mengutamakan rumah dan kebun mereka (Hag 1:4-6). Allah pun mengajak mereka memperhatikan kondisi mereka setelah Bait Allah mulai dibangun kembali, sekalipun dalam kondisi di mana mereka sudah tidak memiliki apa pun. Dalam ketiadaan tersebut, Allah justru memberikan berkat. Allah menegur mereka yang hanya memikirkan dirinya sendiri ketika mereka masih memiliki. Dengan memberikan ketiadaan, sejatinya Allah mengajak mereka kembali mengingat siapa dan dari mana mereka beroleh hidup, serta sungguh-sungguh mengutamakan Allah dalam hidup.


Seberapa pun besarnya kekuatan kita, kita manusia yang penuh keterbatasan. Untuk itu, marilah kita mengutamakan Allah dalam hidup, sebab Allah memberikan hidup bagi kita dengan mencurahkan berkat-Nya. --ZDP/www.renunganharian.net


UTAMAKANLAH ALLAH DALAM HIDUP, 

SEBAB ALLAH YANG MEMBERI HIDUP BAGI KITA.

Rabu, 19 November 2025

Hidup yang berbuah

 Renungan Harian

Bacaan: YOHANES 15:1-8

Setahun: Kisah Para Rasul 18-20 


Hidup yang Berbuah

"Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan bahwa kamu berbuah banyak dan menunjukkan kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8)


Memproduksi sendiri sepatu dan sandal dari kulit, berbekal keterampilan menjahit yang dimilikinya dan tabungan dari hasil bekerjanya, seorang ibu kemudian mengajak 25 teman sekerjanya di pabrik yang dahulu terdampak pandemi Covid-19 untuk ikut berwirausaha. Ia bahkan membantu mereka untuk mendapatkan modal melalui sistem pinjaman bersama dan menjamin bahwa cicilan mereka berjalan lancar. Produk hasil jahitannya pun semakin berkembang dan dapat menyejahterakan semuanya.


Hidup terpusat pada diri sendiri tidaklah memuliakan Tuhan. Bahkan sekalipun kita dapat merengkuh seisi dunia, hari-hari kita akan terasa kering dan tidak bermakna. Ketika kita tinggal dalam Tuhan, kita akan selalu termotivasi untuk berarti bagi-Nya dan sesama sehingga tidak ada kekosongan yang menghinggapi kita dan hidup kita pun terus menghasilkan buah. Hendaknya kita menyadari bahwa hidup kita bukanlah untuk pengejaran ambisi pribadi kita semata-mata, melainkan kita yang menemukan peran kita di dunia ini dengan mendekat kepada-Nya, akan fokus untuk berkarya bagi Tuhan dengan kemampuan terbaik yang kita miliki.


Apakah kita telah menyerahkan segenap hidup kita ke dalam tangan Tuhan sehingga melalui diri kita, Dia dapat bekerja dengan luar biasa untuk menjadikan dunia lebih baik? Sadarilah bahwa keegoisan kita tidak akan dapat memuaskan jiwa kita. Hanya dengan senantiasa berjalan bersama Tuhan saja hidup kita akan menjadi penuh arti. --KSD/www.renunganharian.net


HIDUP YANG KITA SERAHKAN KEPADA TUHAN AKAN SENANTIASA BERBUAH

SEHINGGA HARI-HARI KITA TIDAK AKAN HAMPA SERTA PENUH

DENGAN SUKACITA DAN DAMAI SEJAHTERA.

Senin, 17 November 2025

Merawat Iman

 Renungan Harian

Selasa, 18 November 2025

Bacaan: 2 PETRUS 1:3-15

Setahun: Kisah Para Rasul 14-15


 *MERAWAT IMAN* 

Karena itu, Saudara-saudara, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan keterpilihanmu makin teguh. Sebab, jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. (2 Petrus 1:10)


Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan petani supaya tanamannya berbuah. Mulai dari menyiapkan lahan, menyemai benih, menanam bibit, merawat tanaman dengan menyiram dan memupuk, mengontrol hama pengganggu dan lain sebagainya. Jika seorang petani hanya menanam benih tanpa merawatnya, mustahil tanamannya bertumbuh dengan baik, apalagi menghasilkan buah.


Iman kepada Tuhan pun perlu perawatan. Tidak cukup hanya mengaku sebagai murid Yesus lalu selesai. Iman sebagai dasar kehidupan Kristiani harus dijalankan dengan melakukan perbuatan baik. Memiliki pengetahuan tentang cara hidup yang bijaksana. Belajar menguasai diri. Bertahan dalam kesusahan. Berusaha untuk hidup semakin sesuai dengan kemauan Allah. Belajar mengasihi saudara seiman dan menyatakan kasih kepada semua orang dengan perbuatan. Dengan demikian, barulah iman kita bertumbuh dan terbukti bahwa kita benar-benar mengenal Yesus.


Iman bukanlah sesuatu yang statis. Iman harus bertumbuh. Dan pertumbuhan iman bukanlah sebuah otomatisasi yang dapat berjalan dengan sendirinya tanpa usaha. Iman memerlukan partisipasi aktif. Karena itu, pertumbuhan iman harus diupayakan. Pengakuan atas iman kepada Tuhan harus mendorong kita berusaha mengembangkan kualitas diri dengan citra Kristus. Benar bahwa proses ini tidaklah selalu mudah. Namun, ketika kita tidak bergerak maju, arus dunia akan menghanyutkan kita. Hanya ketika kita berusaha dengan sungguh-sungguh menjalankan iman kepada Tuhan, kita semakin diteguhkan dan dapat mencapai tujuan surgawi.

—EBL/www.renunganharian.net


KESELAMATAN ADALAH PANGGILAN TUHAN, TETAPI ORANG PERCAYA HARUS

MENEGUHKAN PANGGILAN DENGAN HIDUP DALAM KETAATAN

Senin, 10 November 2025

Salah Perhitungan

 Renungan Harian

Bacaan: BILANGAN 21:21-30

Setahun: Yohanes 16-18 


Salah Perhitungan

Tetapi, Sihon tidak mengizinkan orang Israel berjalan melewati daerahnya. Bahkan, ia menghimpun seluruh tentaranya dan keluar ke padang gurun menghadapi orang Israel. Sesampainya di Yahas berperanglah ia melawan orang Israel. (Bilangan 21:23)


Dalam perjalanan mereka keluar dari Mesir menuju Kanaan, bangsa Israel hendak melintasi negeri orang Amori. Mereka mengirim utusan menemui sang raja, memohon izin untuk melintasi negerinya, bahkan berjanji tidak akan melakukan tindakan apa pun yang merugikan negeri itu. Namun, sang raja menolak. Ia bahkan menghimpun tentaranya dan memerangi bangsa Israel ke padang gurun. Ia mengira dirinya begitu kuat. Namun, yang terjadi ialah sebaliknya. Bangsa Israel mengalahkan mereka, serta merebut lalu menduduki negerinya. Sang raja dan rakyatnya pun binasa.


Setiap tindakan merupakan hasil dari sebuah keputusan. Adakalanya kita memutuskan sesuatu secara matang dan penuh pertimbangan, tetapi adakalanya kita melakukannya secara ceroboh atau serampangan. Memang, kita tidak selalu memiliki cukup banyak waktu untuk mempertimbangkan sesuatu, sebab kadang-kadang, keputusan harus diambil sesegera mungkin. Namun, kadang kita memutuskan sesuatu dengan sangat percaya diri, mengira diri kita mampu membereskannya, tetapi hasilnya bisa saja di luar dugaan.


Idealnya, kita senantiasa bertindak dengan hati-hati. Tidak asal melangkah. Namun, dengan memikirkan risiko yang mungkin terjadi. Baik buruk yang ditimbulkannya harus menjadi pertimbangan kita. Namun, ini bukan jadi alasan untuk bergerak lamban, atau tidak siap menanggung risiko. Melainkan kita harus belajar tanggap, berpikir cerdas, dan tentunya, mengandalkan hikmat dan tuntunan Allah. Itulah kunci yang setiap saat harus kita pegang. Prinsip inilah yang dapat mencegah kita agar tidak salah perhitungan dalam mengerjakan sesuatu. --HT/www.renunganharian.net


MEMPERTIMBANGKAN SESUATU DENGAN MATANG DAN HATI-HATI

DAPAT MENGHINDARKAN KITA DARI BERBAGAI TINDAKAN YANG MEMBUAT RUGI.

Hidup Berkemenangan

Mengatasi Ketakutan   Ketakutan adalah perasaan yang seringkali muncul ketika kita menghadapi suatu permasalahan. Raja Yosafat pun menjadi t...