RENUNGAN MINGGU PRA PASKAH KE-2
5 MARET 2023
Bacaan Yohanes 3:1-21
*BERIMAN DI TENGAH KRISIS*
_"Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?"_
(Yohanes 3:12)
Untuk bisa memahami dengan benar tentang tema renungan hari ini, kita perlu mengetahui lebih dulu definisi krisis. Krisis (dari bahasa Yunani κρίσις - krisis; bentuk kata sifat: "kritis" atau kemelut) adalah setiap peristiwa yang sedang terjadi (atau diperkirakan) mengarah pada situasi tidak stabil dan berbahaya yang memengaruhi individu, kelompok, komunitas, atau seluruh masyarakat. Kita mengenal bermacam-macam krisis, antara lain: krisis ekonomi, krisis moneter, krisis kebudayaan, krisis moral, krisis kepercayaan dan juga krisis iman.
Dalam konteks bacaan firman Tuhan saat ini yaitu tentang percakapan Nikodemus dengan Yesus bukanlah membahas tentang krisis ekonomi, budaya atau moneter dan lainnya, melainkan lebih kepada krisis keyakinan. Kita tahu bahwa Nikodemus adalah seorang Farisi, seorang yang terdidik, seorang cendekiawan. Ia juga seorang pemimpin agama Yahudi, anggota Mahkamah Agama (Sanhedrin), anggota majelis, anggota dewan penasihat, seorang berpengaruh di Yerusalem. Soal Kitab Taurat sudah pasti jago. Meski demikian Nikodemus memiliki krisis keyakinan tentang apa yang ia pelajari selama ini, terlebih mengenai Kemesiasan Yesus. Oleh sebab itu ia ingin sekali bertukar wawasan dengan Yesus karena dengan mata kepala sendiri Nikodemus menyaksikan mujizat-mujizat yang telah Yesus lakukan. Dari hasil percakapan dengan Yesus maka krisis keyakinan Nikodemus teratasi. Nah bagaimana hal itu bisa terjadi? Inilah yang dilakukan oleh Nikodemus:
1. Ia datang kepada Yesus dengan kesungguhan hati (ayat 2). Ia datang di waktu malam dimana bagi orang lain merupakan waktu untuk bersantai dan beristirahat. Tanpa kesungguhan hati tentu Nikodemus lebih memilih bersantai dan beristirahat. Bagaimana dengan diri kita? Lebih memilih memanfaatkan waktu malam untuk bersantai atau datang kepada Tuhan Yesus dengan membaca dan merenungkan firman-Nya? Krisis keyakinan dan iman biasanya terjadi karena kita lebih memilih bersantai dan berkegiatan lain yang menyenangkan hati kita dibanding datang kepada Tuhan dan mendengarkan suara-Nya.
2. Ia datang kepada Yesus dengan kerendahan hati (ayat 2). Sebagai seorang pemimpin agama yang terpandang dan terdidik, tanpa kerendahan hati tentu tidak mau datang apalagi belajar kepada Yesus yang notabene di mata Nikodemus hanyalah seorang "rabi" atau guru yang oleh golongan Farisi dan ahli-ahli Taurat dianggap musuh atau saingan. Dari sini kita bisa belajar bahwa sekalipun pendidikan kita tinggi, menjadi pemimpin, ahli kitab tidak menjamin mengerti hal-hal yang bersifat rohani tanpa dilandasi kerendahan hati untuk mau belajar tentang kebenaran kepada Tuhan Yesus.
3. Mengakui tanda-tanda keilahian pada diri Yesus (ayat 2). Jika orang Farisi dan ahli-ahli Taurat pada umumnya tidak mau mengakui tentang tanda-tanda keilahian Yesus, Nikodemus mengakuinya. Pengakuan Nikodemus tidak hanya dinyatakan di depan Yesus saja, namun seiring bertumbuhnya keyakinan Nikodemus, iapun berani mengakui di depan banyak orang (Yohanes 7:50; 19:39). Sampai saat ini masih banyak orang yang tidak mau mengakui keilahian Yesus. Mereka tetap menganggap Yesus hanya sebagai guru, nabi atau seorang utusan Tuhan dan tidak lebih dari itu. Oleh sebab itu mereka tetap saja masih memiliki krisis keyakinan dan "kebingungan spiritual" sehingga terus mencari kebenaran di luar Kristus, namun tak pernah mereka temukan. Mereka seperti Nikodemus sebelum bertemu secara pribadi dengan Yesus, yang memahami makna kelahiran baru dengan akal dan logika manusia. Tak heran jika mereka tak mempercayai bahwa Yesus adalah Firman Tuhan yang menjadi manusia (Yohanes 1:14), karena bagi mereka hal itu dianggap tidak masuk akal. Mereka menganggap orang Kristen menjadikan manusia sebagai Tuhan, padahal yang diimani oleh orang Kristen adalah Tuhan yang menjadi manusia di dalam Yesus Kristus. Tuhan itu kuasa-Nya tidak terbatas sehingga akal manusia tidak dapat menjangkau dan menyelaminya. Jika Allah dapat dijangkau oleh pikiran manusia, dia bukan Allah yang Maha segalanya.
4. Nikodemus bersedia untuk dilahirkan kembali dalam Roh. Ia mengalami hidup yang baru, hal itu terbukti ia berani membela Yesus di hadapan imam-imam dan orang-orang Farisi (Yohanes 7:50) serta membawa minyak mur dan minyak gaharu saat kematian Yesus (Yohanes 19:39).
Saudaraku terkasih, bagaimana dengan kehidupan kita sekarang? Adakah yang sedang mengalami krisis? Selama kita masih memiliki iman dan keyakinan akan kasih Tuhan di dalam Yesus, maka Tuhan akan *menyelamatkan* kita dari krisis apapun, seperti apa yang difirmankan-Nya : *_"Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia"_* (Yohanes 3:17)
Amin. Selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati kita semua 🙏
Tidak ada komentar:
Posting Komentar