Senin, 10 Februari 2025

Buah Ketaatan

 SAAT TEDUH

11 FEBRUARI 2025

Bacaan Lukas 5:1-11


*BUAH KETAATAN*

_Dan *setelah mereka melakukannya,* mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak_ (Lukas 5:6)  


Mungkin ketika seseorang hidupnya dipenuhi kebahagiaan dan segala sesuatu berjalan mulus tanpa masalah, maka untuk menjadi taat akan terasa lebih mudah dibanding ketika hidupnya diliputi masalah, banyak pergumulan bahkan sedang dilanda penderitaan. Coba saja ketika kita sedang dalam kondisi pikiran kalut, banyak persoalan yang bikin pusing, pasti akan sulit untuk menerima nasihat atau pendapat seseorang. Kita akan berkata dalam hati "ngomong sih mudah, kamu bisa saja ngomong begitu....lha aku ini yang merasakan". Kalau pikiran dan hati sedang kalut, jangankan untuk taat, untuk tersenyum saja susahnya minta ampun.

Saudaraku terkasih, tidak ada salahnya *saat ini kita mencoba belajar memposisikan diri sebagai Simon*. Bagaimana perasaan kita ketika sudah semalaman menjala ikan tanpa istirahat dan tidur, tetapi tidak seekorpun berhasil kita tangkap? Apakah kita bisa bahagia ketika pulang dengan tangan hampa, padahal keluarga berharap setidaknya ada rejeki untuk menyambung hidup? Tentu ada perasaan kecewa, sedih, jengkel dan kesal serta rasa bersalah karena tak mampu membawa hasil apapun untuk sekedar membahagiakan keluarga. Di tengah hati yang sedang kalut, eh tiba-tiba Yesus naik ke perahu dan menyuruh kita menjauh sedikit dari pantai karena Dia akan mengajar orang banyak dari atas perahu kita. Tentu hati kita yang sedang sedih, kesal dan kecewa akan sulit menerima pengajaran firman Tuhan. Belum lagi setelah itu kita diminta mengarahkan perahu ke tempat yang dalam untuk menebar jala. Tentu perintah itu semakin membuat kita jengkel. Bagaimana tidak jengkel, perintah itu dirasa tidak masuk akal, karena menjala ikan di waktu pagi atau siang dan ditempat yang dalam adalah hal yang mustahil untuk bisa mendapatkan ikan. Semalam suntuk saja gagal apalagi hari sudah terang menjelang siang.

Tetapi ternyata kita bukanlah Simon . Apa yang dilakukan Simon berbeda dengan apa yang kita pikirkan. Ia taat melakukan perintah Yesus tanpa banyak tanya atau bahkan ngeyel. ...._"tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga"_ (ayat 5). Dan apa yang terjadi? Ketaatan Simon ternyata tidak sia-sia: _Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak_ (ayat 6).  Itulah buah ketaatan Simon. Apa yang kita anggap mustahil dan secara nalar manusia itu sesuatu yang tidak mungkin, tetapi bagi Tuhan semua serba mungkin. Sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.


Saudaraku terkasih, hari ini kita belajar tentang buah ketaatan. Kiranya hal itu mendorong kita semua untuk mau hidup taat kepada Tuhan, sehingga buah ketaatan kita dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Amin. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita dengan roh ketaatan 🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hidup Berkemenangan

Mengatasi Ketakutan   Ketakutan adalah perasaan yang seringkali muncul ketika kita menghadapi suatu permasalahan. Raja Yosafat pun menjadi t...