SAAT TEDUH EDISI KITAB MAZMUR
25 JUNI 2024
Bacaan Mazmur 22:1-32
*SEBERAT APAPUN PERGUMULANMU, TUHAN PEDULIKANMU*
_"Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya"_ (Mazmur 22:25)
Mazmur 22 merupakan Mazmur yang mengungkapkan penderitaan yang begitu mendalam sang pemazmur, yaitu Daud. Ia tidak hanya merasakan penderitaan secara fisik namun juga secara batin. Hal itu diungkapkannya dalam ayat 7-8: _"Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya"_
Dalam situasi tersebut ternyata ia pun juga menderita secara rohani, karena merasa bahwa dalam situasi yang berat Tuhan pun seolah meninggalkan dirinya. Bahkan saat ia berseru kepada Tuhan, seolah Tuhan tidak juga mau menjawabnya (ayat 2-3). Daud mengalami titik terendah dalam imannya sehingga ia membandingkan betapa Tuhan memperhatikan seru doa nenek moyangnya (ayat 5-6), sementara seru doanya seakan dianggap angin lalu oleh Tuhan sehingga Daud merasa seperti binatang yang menjijikkan (ayat 7). Perasaan yang demikian membuat Daud menjadi tidak berdaya dan merasa tidak lagi berharga (ayat 15-16). Di dalam pikirannya, ia merasa bahwa hidupnya akan berakhir karena maut siap nenerkamnya (ayat 17-19).
Saudaraku terkasih, mungkin ada di antara kita karena ada persoalan yang tak kunjung selesai dan sangat membebani hidup kita, lalu merasakan hal serupa dengan perasaan Daud, yaitu merasa kesepian, tidak dipedulikan Tuhan, tidak berharga dan dibiarkan hancur tanpa daya. Seakan-akan bayang-bayang kelam menyelimuti hidup kita. Nah, dalam situasi seperti ini, jangan sampai kita kehilangan pengharapan apalagi putus asa. Kita harus bangkit dan terus berjuang untuk semakin menguatkan iman percaya kita kepada Tuhan. Dan itulah yang dilakukan Daud. Kesadaran Daud pulih justru ketika ia berada pada titik terendah dalam imannya. Daud sadar bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya sumber kekuatan dan satu-satunya Penolong bagi dia (ayat 20). Daud lalu mengubah ratapan dan keluhan menjadi puji-pujian (ayat 23). Mata iman Daud pun menjadi terbuka dan mampu melihat bahwa Tuhan sangat peduli kepadanya sehingga ia berkata: _"Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya"_ (ayat 25).
Kiranya hal itu juga menyadarkan kita semua bahwa *apapun keadaan dan kondisi kita, Tuhan tetap peduli.* Yang harus kita lakukan saat ini adalah tetap percaya akan kasih dan kuasa-Nya.
Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua 🙏
Tidak ada komentar:
Posting Komentar