Jumat, 31 Januari 2025

Tidak Bersimpati apalagi Berempati

 SAAT TEDUH 

6 JULI 2023

Bacaan Markus 6:30-44


*TIDAK BERSIMPATI APALAGI BEREMPATI*

Tetapi jawab-Nya: *_"Kamu harus memberi mereka makan!"_* Kata mereka kepada-Nya: *_"Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?"_*

(Markus 6:37)  


Ada hal yang sangat berlawanan tentang sikap Yesus dan para murid dalam menyikapi kondisi banyak orang yang saat itu kondisinya seperti "domba tanpa gembala" (ayat 34). Dalam hati Tuhan Yesus muncul rasa belas kasihan (simpati) sehingga menyuruh para murid untuk memberi mereka makan (empati). Namun ternyata sikap para murid sangatlah bertolak belakang dengan Sang Guru. Mereka justru meminta kepada Sang Guru untuk menyuruh orang banyak tersebut pergi supaya mereka masing-masing membeli makanan sendiri-sendiri di desa-desa atau kampung-kampung terdekat (ayat 36). Lebih parah lagi ketika Yesus memerintahkan para murid untuk memberi mereka makan, ada rasa berat untuk berkorban dan _"owel"_ untuk berbagi (ayat 37). Jangankan bersimpati, berempati saja tidak!


Saudaraku terkasih, pada jaman sekarang hal tersebut juga sering terjadi dalam kehidupan bergereja dan berjemaat. Banyak jemaat yang kondisi kehidupan mereka memprihatinkan, kelaparan, kesulitan, miskin dan butuh pertolongan.  Mereka seperti domba tanpa gembala. Sementara pihak gereja dan para pelayan Tuhan justru sibuk dengan program dan rencana yang muluk-muluk tetapi untuk mendukung rencana dan program tersebut, jemaatlah yang selalu menjadi obyek sumber dana, tanpa mempertimbangkan dan melihat kondisi mereka yang dalam kekurangan. Meskipun gereja punya banyak tabungan dana abadi tetapi hanya dikembangkan dan tidak digunakan untuk membantu mereka yang hidup dalam kesulitan, belum punya pekerjaan, kelaparan, miskin dan menderita. Tak ubahnya seperti sikap para murid waktu itu, jangankan berempati, bersimpati saja tidak. Yang mereka lakukan adalah lari dari tanggung jawab. Para murid seharusnya malu dengan ketulusan seorang anak kecil yang penuh keikhlasan mau berbagi dengan memberikan bekal yang dibawanya berupa 5 roti jelai dan 2 ikan (Yohanes 6:9). Itu suatu bentuk pengorbanan yang luar biasa dari seorang anak kecil. Ia rela memberikan semua bekalnya meskipun ia sendiri butuh dan ia juga tahu bahwa apa yang diberikan jumlahnya sangat tidak sebanding dengan makanan yang dibutuhkan untuk 5000 orang lebih. Namun keikhlasan dan pengorbanannya tidak sia-sia. Di tangan Tuhan Yesus sesuatu yang tampak kecil ternyata mampu menjadi berkat besar bagi ribuan orang. Jiwa dan sikap anak kecil tersebut seharusnya juga menjadi jiwa dan sikap para pelayan Tuhan. Gereja jangan hanya menekankan persembahan, tetapi cobalah lebih menekankan pemulihan bagi jemaat yang _"kecingkrangan"_, hidup dalam kemiskinan, kesakitan, kesulitan, pergumulan dan penderitaan. Dampingi dan kuatkan mereka melewati lembah kekelaman dan bawalah mereka ke padang rumput yang hijau.

Percayalah, kita tidak pernah akan menjadi miskin dengan memberi atau berbagi. Perhatikan firman Tuhan dalam Amsal 11:24

*_"Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan"_*

Semoga menjadi permenungan kita bersama. 

Amin, Tuhan Yesus memberkati kita semua 🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hidup Berkemenangan

Mengatasi Ketakutan   Ketakutan adalah perasaan yang seringkali muncul ketika kita menghadapi suatu permasalahan. Raja Yosafat pun menjadi t...