SAAT TEDUH
27 APRIL 2023
Bacaan Mazmur 73:1-28
*AWAS TERGELINCIR!*
_"Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik"_
(Mazmur 73:2-3)
Biasanya orang tergelincir atau terpeleset ada beberapa sebab, antara lain: jalan licin, alas kaki sudah terepes, jalan berpasir, jalan berbatu atau tidak rata, menginjak kulit pisang atau karena jalan menurun. Jika kita tergelincir karena hal-hal tersebut akibatnya pasti sakit, rasa malu saat dilihat orang atau justru kita tertawa. Namun ada salah satu penyebab seseorang tergelincir dan bisa mengakibatkan orang lain sakit hati, tersinggung, marah bahkan mengakibatkan dosa! Ya, tergelincir karena *ucapan* kita.
Dalam Mazmur 73 ini kita melihat bagaimana Asaf mengungkapkan pergumulan dan peperangan hatinya melihat orang fasik yang hidupnya jauh dari Tuhan dan berlaku tidak benar namun hidup mereka kelihatan begitu diberkati dengan kelimpahan. Asaf bin Berekhya bin Simea adalah seorang ahli musik keturunan suku Lewi dari bani Gerson pada zaman raja Daud, seperti yang dicatat dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab. Ia menulis 12 mazmur dalam Kitab Mazmur, yaitu Mazmur 50, 73 sampai 83.
Dalam pasal 73 ini Asaf mengungkapkan rasa cemburu kepada mereka yang suka membual namun hidupnya mujur. Mereka sehat, gemuk, tidak mengalami kesusahan, tidak terkena tulah, hartanya justru semakin bertambah (ayat 3-12). Melihat semua itu sang pemazmur mulai merasa sia-sia mempertahankan hati yang bersih dan hidup yang benar di hadapan Tuhan (ayat 14).
Saudaraku terkasih, bisa saja perasaan kita hampir sama dengan Asaf ketika melihat orang lain kelihatan lebih diberkati, lebih sukses, lebih berkecukupan, lebih populer, padahal hidup mereka penuh dengan ketidak taatan, jarang beribadah, sombong dan penuh kecurangan dan kelicikan. Melihat semua itu hati kita menjadi cemburu, iri, bahkan cenderung membenci. Jika sudah demikian lalu mulailah mulut kita bergosip mengucapkan hujatan, menghakimi, menuduh dan bahkan mengatakan Tuhan tidak adil. Tanpa kita sadari kita telah berdosa karena terpeleset dan tergelincir melalui ucapan kita.
Lalu bagaimana cara Asaf agar tidak terpeleset dan tergelincir jatuh dalam dosa? Inilah yang ia lakukan:
1. Ia datang masuk ke tempat kudus Allah (ayat 17). Artinya apapun yang kita lihat jangan sampai menjauhkan kita dari Allah. Semakin dekat dengan Allah, kita akan semakin mengerti keadilan dan kasih Allah.
2. Menyadari ternyata kesenangan, kekayaan, dan segala yang dimiliki oleh orang fasik sifatnya hanya sementara. Tuhan menaruh mereka di tempat licin yang setiap waktu bisa membuat mereka tergelincir atau terpeleset sehingga hidup mereka hancur, binasa dan dalam sekejap mata apa yang mereka miliki akan habis lenyap tanpa sisa (ayat 18-20).
3. Tetap berada di dekat Tuhan. Dengan berada di dekat Tuhan, maka tangan-Nya akan menuntun kita untuk selalu hidup benar, tidak iri hati terhadap orang lain dan Tuhan mengangkat kita dalam kemuliaan (ayat 23-24).
4. Menjadikan Tuhan sebagai tempat perlindungan (ayat 28). Satu-satunya tempat perlindungan teraman di dunia hanyalah Tuhan. Dalam benteng perlindungan Tuhan, hati kita akan tenang. Tuhan sanggup membalikkan keadaan kita.
Amin. Tetap waspada dan hati-hati agar kita tidak tergelincir dan terpeleset melalui pikiran, perkataan dan tindakan kita. Tuhan Yesus memberkati kita semua 🙏
Tidak ada komentar:
Posting Komentar